"Paramesywari the Deaf"
The sun rose and drove the fog.
Hundreds of glorious mountaintops touch the sky. Over time clouds were seen
hanging in the sky of the transition season. The day was right on 937 Saka. The
moon disappeared in the cold that lasts for night.
The Palace looked deserted since
the departure of Sri Baginda Danjaya. Remained Paramesywari Kinasih along with
her loyal servants in Pendopo Keputren. But almost a quarter of windu Yang Ayu
Kinasih did not come out from Bilik Agung. Seen by the servant, Yang Ayu did
not move from the contemplation. She did not read rontal from the brahmans. She did not glance at the Ramayana story on the burning ground wall. Everyday
just sang the poems from Maha Guru. The Songs which believed by people can not
longer entertain the heart. Yang Ayu did not eat a bite of rice. The Servants were not rarely expelled away. She just stayed alone and silence. Only one
servant named Inang who is faithful to accompany. Kept Yang Ayu's body, which
was getting wilted every day.
"Oh..Yang Ayu. Eat some
food, please. Then wipe your body that had been untouched by water in Kawi's
slopes. As the sun is rising, I will bring Yang Ayu to the behind of Pendopo
Keputren. There is a Melinjo tree below which there is a bamboo couch for you
to sit on. I'll comb Yang Ayu's hair and I'll tuck the flower of Ceplok Piring
from the Forbidden Garden " Inang persuade.
"Dear God, sit you right
beside me. Have you heard the winds sung beautiful verses of Hyang Surya at
dusk? Today the sun seems to be engulfed by Betharakala. While this small and
wilted body has not yet reached the west to get a peace of heart from waves rippling "Yang Ayu Kinasih bowed
her head on Inang, then she was dropping her tears.
"It is not true if Yang Ayu
talks about the west. Yang Ayu's place is in the east. It is not even possible
if Yang Ayu imagines the waves, while the splash of the river is the real one.
Yang Ayu will get a peace of heart when Yang Ayu stops listen to worldly
voices. " Inang was grabbing Yang Ayu's shoulder then stroking her long dull hair.
"Oh my Inang. Is it true
that I am the most wicked manifestation? "
"For Jagad Pramudita, maybe
someone else hates you. But do they know about you? They only know about the
Paramesywari. There is no game in your melodious poems. The Majesty is not
hooked on you by a spell. Your sorrow is not a lie. Your tears are not fake
" Inang felt hurt saw her Paramesywari kneeling in helplessness.
"Oh no… My Inang. The words
of the people it may be true. I do not deserve to be Paramesywari. I Brahmani
should not sit on the throne with Satria. This 20-year-old girl doesn't know
about the country or anything else. I am just the daughter of the Sudra who
should be cultivating a field with a hoe. Not made beautiful by you every
day" Kinasih crying harder. Even the birds went powerless listening to the
pain.
"Dear God ... Please forgive
me. Who says that Yang Ayu is inappropriate? There is no more in this country
that deserves to accompany Sri Baginda Danjaya. It is not wrong if a Brahmin
accompanies Satria, even gods have confirmed that caste will be transformed by
the human dharma itself " Inang was increasingly confused with the
Pramesywari which drifting in the words of people.
"Oh Inang ... may be true if
Sri Baginda Danjaya left this palace because he did not want to have a wife
like me that almost four years marriage has not been able to contain his
successor. Is it true that your Majesty went to marry another woman prettier
than me, wiser than my verses? " Paramesywari's voice was husky.
"Oh great universe, don't
you justify Yang Ayu's words. Yang Ayu, Paramesywari, Sri Baginda Danjaya is a
wise knight.His dharma no doubt. He is the most faithful among the previous
kings. It's enough of Yang Ayu's beautiful face for him. Not less Yang Ayu's
wisdom for him. " Inang did not gave up assuring the Paramesywari.
"Tell me .. oh my Inang ..
what's less than me?"
The cold wind of transition showed up. Inang lifted Pramesywari's head from her lap.
"Oh Yang Ayu ... the ocean
knows your race is wider than it is. Being able to hear is a gift, but once in
a while Yang Ayu must also become deaf. From the talk of the people who are
never satisfied by his lust. As long as they still have the tongue, then during
that time they will be able to sing grief for others. But cutting the tongues
of people just to protect our feelings is not justified, Yang Ayu. We must be
able to cut the bad feelings ourselves "
"What should I do, Oh My
Inang?" The Paramesywari wiped his tears.
"Come out Yang Ayu. Stop
hiding away like this. Get out from the palace. Be the real Paramesywari. Give
us orders and we as servants will be happy to do so. Go back to your old
Majesty. Restore that confidence in Your Majesty. Sing again the wisdom poems
"
"Oh my Inang ..."
"For the sake of the
Universe Pramudita, even the mountain will not listen to the talk of the people
and the cave will not echo it to you. Yang Ayu, there are still many days that
the Gods offer for you, don't just these days which you are looking at "
Feeling that her Inang was true,
then from that day Pramesywari Kinasih made herself deaf. She was deaf from the
words of the person who weakened it. He returned to his old self, a respected
Paramesywari of the whole country. Paramesywari who is famous for her wisdom.
Pramesywari that no longer fallen just because of people's words. Paramesywari
who plunged into the battle field lifted the sword.
..................................................................................................................................................................
"Paramesywari
yang Tuli"
Metari meninggi kejar mengejar mengusir kabut. Ratusan
pandang gunung – gunung agung meninggi menyentuh langit. Selang beberapa waktu
awan – awan terlihat bergantungan di langit musim pancaroba. Hari itu tepat
pada 937 Saka. Bulan menghilang berganti dingin yang berkepanjangan kala malam.
Istana terlihat sepi sejak kepergian Sri Baginda Danjaya.
Tersisalah Paramesywari Kinasih beserta abdi setianya dalam Pendopo Keputren.
Namun sudah hampir seperempat windu Yang Ayu Kinasih tak juga keluar dari Bilik
Agung. Dilihatnya oleh pelayan , Yang Ayu tak juga beranjak dari perenungan.
Tak dibacanya rontal – rontal dari para Brahman. Tak diliriknya ukiran kisah
Ramayana di dinding tanah yang di bakar. Setiap hari hanya menyanyikan syair –
syair dari para Maha Guru. Lagu – lagu yang diyakini oleh orang – orang tak mampu lagi menghibur hati. Yang Ayu tak
juga makan sesuap nasi. Pelayanpun tak
jarang diusir pergi. Dia hanya h sendiri dan berdiam diri. Hanya pelayan
yang seorang itu bernama Inang selalu setia menemani. Meriasi tubuh Yang Ayu,
yang semakin hari semakin layu.
“Makanlah duhai Yang Ayu, lalu bersihkanlah badan yang sudah
berapa hari tak tersentuh air itu di pancuran kali lereng Kawi. Saat matahari
sudah meninggi, akan Inang bawa Yang Ayu ke belakang Pendopo Keputren. Di sana
ada pohon Melinjo yang di bawahnya terdapat dipan bambu untuk kau duduki. Akan
ku sisir rambut Yang Ayu ini dan kuselipkan kembang Ceplok Piring dari Taman
Terlarang” si Inang membujuk.
“Duhai Inangku yang dikasihi, duduklah kau tepat disampingku.
Pernahkah kau dengar angin bersahut menyanyikan syair – syair indah tentang
Hyang Surya saat senja? Hari ini matahari seolah akan ditelan oleh Betharakala.
Sedangkan badan kecil dan layu ini belum juga sampai di barat untuk mendapatkan
sesanti dari merdunya ombak yang
beriak” Yang Ayu Kinasih menundukkan kepala pada Inangnya, menjatuhkan air
matanya dan tersedan – sedan.
“Bukanlah tepat jika Yang Ayu membicarakan tentang barat.
Tempat Yang Ayu adalah di timur. Tidaklah juga mungkin bila Yang Ayu
membayangkan Ombak, sedangkan gemercik sungai adalah yang nyata. Sesanti itu akan Yang Ayu dapatkan bila
Yang Ayu berhenti mendengarkan suara – suara duniawi” Inang meraih bahu Yang
Ayu dan menepuk – nepuknya. Membelai rambut panjangnya yang kusam.
“Benarkah jika aku adalah penjelmaan yang Maha Dusta?”
“Demi Jagad Pramudita. Boleh jadi yang lain membenci. Tapi
tidakkah mereka tahu tentang Yang Ayu? Mereka hanya tahu tentang Sang
Paramesywari. Tidaklah ada permainan
dalam syair – syairmu yang merdu. Tidaklah juga Sang Baginda terpikat padamu
karena mantra. Tidaklah dusta dukamu Yang Mulia, Tidak juga palsu air matamu” Inang
menangis melihat Paramesywari bersimpuh dalam ketidak berdayaan.
“Oh tidak Inangku. Boleh jadi benar ucapan para Kawula itu.
Aku tidaklah pantas menjadi Paramesywari. Aku Brahmani tidak seharusnya duduk
bertahta mendampingi Satria. Tahu apa gadis 20 tahun ini tentang negeri. Aku
hanyalah putri kaum Sudra yang sepantasnya mengolah ladang dengan cangkul. Tak
dirias olehmu setiap hari di sini” Tangisan Kinasih semakin keras. Bahkan
burung – burung pun pergi tak kuasa mendengarkan deritanya.
“Ya Dewa… Ampunilah hamba. Siapakah yang mengatakan bahwa Yang
Ayu tidaklah pantas? Sungguh tak ada lagi di negeri ini yang pantas mendampingi
Sri Baginda Danjaya. Tidaklah salah jika seorang Brahmani mendampingi Satria,
bahkan dewa telah membenarkan bahwa kasta akan dirubah oleh dharma manusia itu
sendiri” Inang semakin bingung menghadapi Sang Pramesywari yang terhanyut dalam
omongan – omongan orang.
“Oh Inang… boleh jadi benar jika Sri Baginda pergi dari
Pekuwuan sebab ia tak sudi memiliki istri sepertiku yang hampir setengah windu
pernikahan belum juga mampu mengandung penerusnya. Benarkah Sri Baginda pergi
untuk memperistri wanita lain yang lebih cantik dari padaku, yang lebih
bijaksana daripada syair – syairku?” suara Paramesywari terdengar parau.
“Jagad Pramudita, jangan kau benarkan kata – kata Yang Ayu
ini. Yang Mulia Paramesywari, Sri Baginda adalah satria yang bijaksana.
Dharmanya sudah tidak diragukan lagi. Dia lah yang Maha Setia diantara raja –
raja sebelumnya. Sudahlah cukup wajah cantik Yang Ayu ini baginya. Tidak juga
kurang kebijaksanaan Yang Ayu ini untuknya.” Inang tak menyerah meyakinkan Sang
Paramesywari.
“Katakanlah Inangku.. apa yang kurang dari diriku?”
Angin dingin pancaroba menunjukkan dinginnya. Si Inang
mengangkat kepala Sang Pramesywari dari pangkuannya.
“Duhai Yang Ayu… samudra pun tahu rasamu lebih luas dari
padanya. Bisa mendengar adalah suatu anugrah, namun sesekali Yang Ayu juga
harus menjadi tuli. Dari omongan para Kawula yang tak pernah puas oleh
nafsunya. Selama mereka masih memiliki lidah, maka selama itu pula mereka akan
mampu menyanyikan kedukaan bagi orang lain. Namun memotong lidah para Kawula
hanya untuk melindungi perasaan kita tidaklah dibenarkan Yang Ayu, kita lah
yang harus mampu memotong perasaan buruk diri kita sendiri”
“Apa yang sebaiknya diri ini lakukan, duhai Inang?” Sang
Paramesywari mengusap air matanya.
“Keluarlah Yang Ayu. Berhentilah menyembunyikan diri seperti
ini. Pergilah keluar Pendopo. Jadilah
Paramesywari yang sebenarnya. Berikan perintah pada kami maka kami sebagai abdi
akan dengan senang hati melakukannya. Kembali lah pada diri Yang Mulia yang
dulu. Kembalikanlah rasa percaya diri itu dalam diri Yang Mulia. Nyanyikanlah
lagi syair – syair kebijaksanaan”
“Oh Inangku…”
“Demi Jagad Pramudita, bahkan gunung itu pun tak akan sudi
mendengarkan omongan para Kawula itu dan goa tak akan sampai hati
menggemakannya padamu. Yang Ayu, masih ada banyak hari yang Dewa persembahkan
untukmu, janganlah hanya hari – hari seperti ini saja yang kau indahkan”
Merasa bahwa omongan Inangnya
adalah benar adanya, maka sejak hari itu Pramesywari Kinasih menjadi tuli. Dia tuli
akan omongan – omongan orang yang melemahkannya. Dia kembali pada dirinya yang
dulu, seorang Paramesywari yang disegani seluruh negeri. Paramesywari yang
terkenal karena kebijaksanaannya. Pramesywari yang tidak tumbang hanya karena
omongan – omongan orang. Paramesywari yang ikut terjun ke medan perang
mengangkat pedang.
...................................................................................................................................................................
NOTE :
Cerita ini adalah hasil dari imaginasi penulis secara pribadi.
Nama – nama yang ada maupun tempat yang digunakan dalam cerita tidaklah
ditujukan atau mengacu pada sejarah. Cerita ini sebenarnya mengangkat hal – hal
kecil yang sering terjadi disekitar kita yang sering kita alami, hanya saja penulis menyajikannya
dalam latar tempat dan suasana yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari – hari kita sering mendengar perkataan
– perkataan orang. Dari perkataan itu ada sisi yang membangun dan tidak sedikit
juga sisi yang menjatuhkan. Untuk orang – orang yang memiliki sifat ‘tidak mau
tahu’ alias cuek, hal – hal seperti ini akan dianggap biasa saja dan bukan
masalah besar. Namun untuk orang – orang yang memiliki sifat perasa dan pemikir
, hal – hal seperti ini akan dianggap sebagai sesuatu yang serius. Mereka akan
selalu tidak tenang karena selalu mendengarkan omongan orang.
Dalam cerita ini Paramesywari Kinasih adalah cerminan orang
yang memiliki sifat demikian, pemikir dan perasa. Dulunya saat dia menjadi anak
petani, omongan orang tentang dirinya tidak begitu dia dengarkan. Saat dia
menjadi orang yang berilmu (yang dilambangkan dengan kaum brahma) perkataan
orang yang menjelekkannya juga masih bisa direda. Namun ketika dia berada di atas,
menjadi Paramesywari, seorang istri raja, yang disegani dan terkenal bijaksana,
dia semakin menjadi sorotan. Tak sedikit orang yang iri padanya dan selalu
berusaha untuk menjatuhkannya. Setiap hari omongan orang – orang itu
didengarkan tanpa mampu dia pilah mana yang patut didengar dan mana yang tidak.
Lama kelamaan dia sendiri melemah, dan tenggelam dalam rasa bersalah juga
pemikiran – pemikiran buruk dirinya sendiri.
Semakin lama dia semakin tenggelam dalam kedukaan. Melamun,
tidak mau makan, berdiam diri hingga akhirnya dia jatuh sakit. Tubuhnya kurus kering
dan tidak ada gairah untuk menjalani hidup. karena apa yang akan dia lakukan
selalu mempertimbangkan penilaian masyarakat. Untuk mengatasi kondisi ini
penulis menghadirkan tokoh Inang sebagai jalan keluar.
Dalam cerita, kelemahan Paramesywari dimunculkan dalam
percakapan – percakapannya. Seperti:
“Duhai Inangku yang dikasihi,
duduklah kau tepat disampingku. Pernahkah kau dengar angin bersahut menyanyikan
syair – syair indah tentang Hyang Surya saat senja? Hari ini matahari seolah
akan ditelan oleh Betharakala. Sedangkan badan kecil dan layu ini belum juga
sampai di barat untuk mendapatkan sesanti dari merdunya ombak yang beriak” Yang
Ayu Kinasih menundukkan kepala pada Inangnya, menjatuhkan air matanya dan
tersedan – sedan.
= Matahari yang
akan ditelan oleh betharakala menunjukkan bahwa hidupnya seolah gelap tidak ada
lagi penerangan. Frustasi. Sedangkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin
memburuk itu dia belum juga mendapatkan sesanti atau ketenangan batin dari
omongan – omongan orang diluar sana.
“Bukanlah tepat jika Yang Ayu
membicarakan tentang barat. Tempat Yang Ayu adalah di timur. Tidaklah juga
mungkin bila Yang Ayu membayangkan Ombak, sedangkan gemercik sungai adalah yang
nyata. Sesanti itu akan Yang Ayu dapatkan bila Yang Ayu berhenti mendengarkan
suara – suara duniawi” Inang meraih bahu Yang Ayu dan menepuk – nepuknya.
Membelai rambut panjangnya yang kusam.
= Disini
Inang menegaskan bahwa setiap orang itu
sudah memiliki kehidupannya sendiri – sendiri. Kita tidak perlu mengurusi hidup
orang lain (barat) karena kita sudah punya kehidupan kita sendiri (timur) semua
memiliki keindahannya masing – masing. Di barat kita mungkin bisa melihat
senja, tapi timur juga permulaan dari segalanya. Kita tidak perlu berfikir hal –
hal yang terlalu besar tentang omongan orang lain (Ombak). Kita memiliki
kehidupan kita sendiri yang walaupun sesederhana apapun itu (sungai) tapi
itulah yang nyata, kehidupan yang kita miliki.
Kita akan mendapatkan ketenangan batin kalau kita berhenti mendengarkan
omongan – omongan orang yang selalu berfikir tentang dunia (khususnya yang suka
menjelek – jelekkan dan menjatuhkan orang lain melalui perkataannya)
“Benarkah jika aku adalah
penjelmaan yang Maha Dusta?”
=
sederhananya ini menunjukkan bahwa ada orang yang mengatakan bahwa Paramesywari
adalah tukang dusta. Dan dia memikirkan perkataan orang itu sehingga ia
menanyakan pada si Inang.
“Demi Jagad Pramudita. Boleh jadi
yang lain membenci. Tapi tidakkah mereka tahu tentang Yang Ayu? Mereka hanya
tahu tentang Sang Paramesywari. Tidaklah
ada permainan dalam syair – syairmu yang merdu. Tidaklah juga Sang Baginda
terpikat padamu karena mantra. Tidaklah dusta dukamu Yang Mulia, Tidak juga
palsu air matamu” Inang menangis melihat Paramesywari bersimpuh dalam ketidak
berdayaan.
= Dari
jawaban si Inang menunjukkan bahwa ada beberapa orang tidak menyukai
paramesywari sehingga mereka mengatakan bahwa Paramesywari selalu menyelipkan
hasutan – hasutan dalam setiap perkataannya yang membuat dia disegani dan
disebut bijaksana. Bahwa suaminya terpikat karena Paramesywari menggunakan
sihir/jampi – jampi, kesedihan yang ditunjukkan Paramesywari didepan umum
adalah sandiwara. Padahal semua itu tidaklah benar adanya.
“Oh tidak Inangku. Boleh jadi benar
ucapan para Kawula itu. Aku tidaklah pantas menjadi Paramesywari. Aku Brahmani
tidak seharusnya duduk bertahta mendampingi Satria. Tahu apa gadis 20 tahun ini
tentang negeri. Aku hanyalah putri kaum Sudra yang sepantasnya mengolah ladang
dengan cangkul. Tak dirias olehmu setiap hari di sini” Tangisan Kinasih semakin
keras. Bahkan burung – burung pun pergi tak kuasa mendengarkan deritanya.
=Jawaban
selanjutnya menegaskan lagi sifat Paramesywari. Dia memikirkan omongan orang
yang mengatakan bahwa dia tidak pantas untuk suaminya. Karena suaminya dari
keluarga terpandang (Kasta Satria) sedang dirinya sebenarnya hanya lah seorang
anak petani (Kaum Sudra) namun berilmu (Kaum Brahma). Orang mengatakan bahwa
Paramesywari tidak seharusnya memiliki tahta dan dirias cantik layaknya puteri,
dia seharusnya berada diladang dengan cangkul
“Ya Dewa… Ampunilah hamba. Siapakah
yang mengatakan bahwa Yang Ayu tidaklah pantas? Sungguh tak ada lagi di negeri
ini yang pantas mendampingi Sri Baginda Danjaya. Tidaklah salah jika seorang
Brahmani mendampingi Satria, bahkan dewa telah membenarkan bahwa kasta akan
dirubah oleh dharma manusia itu sendiri” Inang semakin bingung menghadapi Sang
Pramesywari yang terhanyut dalam omongan orang.
=Dari
pemikiran Paramesywari si Inang kembali menasehati. Bahwa omongan orang itu
tidaklah benar. Bukan kasta yang menentukan pantas tidaknya seseorang untuk
menjadi pendamping satu dan yang lainnya. Melainkan adalah dharma (tata krama,
perilaku)
“Oh Inang… boleh jadi benar jika
Sri Baginda pergi dari Istana sebab ia tak sudi memiliki istri sepertiku yang
hampir setengah windu pernikahan belum juga mampu mengandung penerusnya.
Benarkah Sri Baginda pergi untuk memperistri wanita lain yang lebih cantik dari
padaku, yang lebih bijaksana daripada syair – syairku?” suara Paramesywari
terdengar parau.
=Belum cukup
puas dengan nasehat si Inang, Pramesywari memikirkan lagi perkataan yang
didengarnya. Seperti halnya terjadi dilingkungan kita sehari – hari, terkadang
orang tidak cukup membicarakan kita, namun juga suami kita dan keluarga kita. Bahkan
pekerjaan kitapun tak luput diurusinya. Seperti halnya digambarkan bahwa mereka
mengatakan Sang Raja pergi karena dia tidak sudi memiliki istri yang belum juga
bisa mengandung. Sang Raja pergi untuk mencari istri yang lebih cantik dan
lebih bijaksana. Ya.. dugaan – dugaan seperti ini misalnya pasti akan selalu
terbangun dimasyarakat khususnya untuk orang – orang tertentu. Belum menikah
dibicarakan, sudah menikah belum memiliki anak juga dibicarakan. Begitulah contoh
sederhananya.
“Jagad Pramudita, jangan kau
benarkan kata – kata Yang Ayu ini. Yang Mulia Paramesywari, Sri Baginda adalah
satria yang bijaksana. Dharmanya sudah tidak diragukan lagi. Dia lah yang Maha
Setia diantara raja – raja sebelumnya. Sudahlah cukup wajah cantik Yang Ayu ini
baginya. Tidak juga kurang kebijaksanaan Yang Ayu ini untuknya.” Inang tak
menyerah meyakinkan Sang Paramesywari.
=Disini si Inang kembali menegaskan bahwa omongan orang itu
tidaklah benar. Suami Paramesywari adalah orang yang paling setia dan berbudi
luhur. Dia pergi semata – mata hanyalah karena pekerjaan yang memang bertempat
jauh dan membutuhkan waktu lama. Namun sudah pastilah orang tidak akan mahu
tahu soal itu.
“Katakanlah Inangku.. apa yang
kurang dari diriku?”
=Disini
menunjukkan bagaimana paramesywari begitu memikirkan penilaian orang terhadap
dirinya.
“Duhai Yang Ayu… samudra pun tahu rasamu
lebih luas dari padanya. Bisa mendengar adalah suatu anugrah, namun sesekali
Yang Ayu juga harus menjadi tuli. Dari omongan para Kawula yang tak pernah puas
oleh nafsunya. Selama mereka masih memiliki lidah, maka selama itu pula mereka
akan mampu menyanyikan kedukaan bagi orang lain. Namun memotong lidah para
Kawula hanya untuk melindungi perasaan kita tidaklah dibenarkan Yang Ayu, kita
lah yang harus mampu memotong perasaan buruk diri kita sendiri”
= Si Inang menegaskan bahwa Pramesywari adalah orang yang
memiliki hati yang baik. Sehingga dia mudah sekali merasakan sesuatu yang ada
disekitarnya, peka, dan tanggap dengan kebijaksanaannya. Namun sayang,
kelemahannya adalah mudah sekali memikirkan omongan orang dan itu tidaklah
baik. Dimanapun kita berada pasti ada satu dua orang yang akan membicarakan
kita entah itu baik maupun buruk. karena setiap orang memiliki lidah. Kita tidak
bisa menghakimi dan memotong lidah setiap orang yang membicarakan hal buruk
tentang kita, sekalipun hal tersebut memang jelas tidak benar adanya. Oleh karena
itu kitalah yang harus mampu mengontrol diri. Untuk sesekali menjadi tuli dan
memotong perasaan – perasaan buruk dalam diri sendiri.
“Apa yang sebaiknya diri ini
lakukan, duhai Inang?” Sang Paramesywari mengusap air matanya.
= Ini
menunjukkan bahwa sang Pramaesywari sudah mulai belajar hal baru. Sesuatu yang akan
membawanya dalam perubahan menuju lebih baik.
“Keluarlah Yang Ayu. Berhentilah
menyembunyikan diri seperti ini.
Pergilah keluar Pendopo. Jadilah Paramesywari yang sebenarnya. Berikan
perintah pada kami maka kami sebagai abdi akan dengan senang hati melakukannya.
Kembali lah pada diri Yang Mulia yang dulu. Kembalikanlah rasa percaya diri itu
dalam diri Yang Mulia. Nyanyikanlah lagi syair – syair kebijaksanaan”
= Disini
inang menegaskan bahwa kita tidak boleh kalah dengan perasaan kita. bahkan
hanya karena omongan – omongan orang yang belum tentu benar. Terkadang orang
hanya tahu nama kita, sisi luarnya kita, tapi tidak tahu kisah kita yang
sebenarnya. maka dari itu jangan gentar. Jangan bersembunyi, lemah dan bahkan
mengurung diri. jika kita lemah dan termakan omongan mereka, maka mereka akan
senang karena merasa menang. Maka dari itu bangkitlah. Kembali pada diri kita
sendiri. Diri kita yang apa adanya. Diri kita yang percaya bahwa kita adalah
baik dan memiliki niat yang baik dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Omongan
orang memanglah perlu untuk jadi pertimbangan dalam memperbaiki diri tapi tidak
semuanya kita harus makan mentah – mentah. Kita harus bisa memilah. Dan tak
sepenuhnya kita hidup hanya perpatokan pada penilaian orang terhadap kita.
“Oh Inangku…”
=Paramesywari
menerima apa yang sudah Inang katakan.
“Demi Jagad Pramudita, bahkan gunung itu pun tak akan sudi mendengarkan
omongan para Kawula itu dan goa tak akan sampai hati menggemakannya padamu.
Yang Ayu, masih ada banyak hari yang Dewa persembahkan untukmu, janganlah hanya
hari – hari seperti ini saja yang kau indahkan”
=Di akhir Inang menambahkan lagi bahwa perkataan – perkataan yang
buruk dari/tentang orang lain apalagi itu tidaklah benar diibaratkan bahwa
gunung saja tidak sudi mendengarnya dan goa tidak kuasa menggemakannya. Kita masih memiliki
banyak hari dalam hidup kita maka janganlah kita hanya terpaku pada hari - hari yang menyedihkan dan mengurusi omongan orang lain yang tidak membangun itu. Sia – sia.
Merasa
bahwa omongan Inangnya adalah benar adanya, maka sejak hari itu Pramesywari
Kinasih menjadi tuli. Dia tuli akan omongan – omongan orang yang melemahkannya.
Dia kembali pada dirinya yang dulu, seorang Paramesywari yang disegani seluruh
negeri. Paramesywari yang terkenal karena kebijaksanaannya. Pramesywari yang
tidak tumbang hanya karena omongan – omongan orang. Paramesywari yang ikut
terjun ke medan perang mengangkat pedang.
Demikianlah sedikit
cerita tentang Paramesywari yang Tuli. Semoga ada yang bisa diambil. Penulis
mengucapkan terimakasih atas kesediaannya dalam membaca dan mohon maaf apabila
masih banyak kekurangan dalam menyampaikan gagasan/ide maupun dalam menyajikan
cerita dalam bentuk tulisan.