Sabtu, 25 Februari 2023

MATERI SONG LYRIC KELAS KELAS IX - BESERTA LKPD

 















HEAL THE WORLD

Michael Jackson

 

(Think about um, the generations
And ah, say we want to make it a better place for our children
And our children's children so that they, they
They, they know it's a better world for them
And think if they can make it a better place)

There's a place in your heart
And I know that it is love
And this place it was brighter than tomorrow
And if you really try
You'll find there's no need to cry
In this place you'll feel there's no hurt or sorow

There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space
Make a better place

Heal the world
Make it a better place
For you and for me, and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

If you want to know why
There's love that cannot lie
Love is strong
It only cares of joyful giving
If we try we shall see
In this bliss we cannot feel
Fear of dread, we stop existing and start living

Then it feels that always
Love's enough for us growing
Make a better world
So make a better world

Heal the world
Make it a better place
For you and for me, and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

And the dream we were conceived in will reveal a joyful face
And the world we once believed in will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth, crucify its soul?
Though it's plain to see, this world is heavenly
Be god's glow

We could fly so high
Let our spirits never die
In my heart I feel you are all my brothers
Create a world with no fear
Together we cry happy tears
See the nations turn their swords into plowshares

We could really get there
If you cared enough for the living
Make a little space
To make a better place

Heal the world
Make it a better place
For you and for me, and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me
Heal the world
Make it a better place
For you and for me, and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

Heal the world (heal the world)
Make it a better place
For you and for me, and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for you and for me

You and for me (for a better place)
You and for me (make a better place)
You and for me (make a better place)
You and for me (heal the world we live in)
You and for me (save it for our children)
You and for me (heal the world we live in)
You and for me (save it for our children)
You and for me (heal the world we live in)
You and for me (save it for our children)


LKPD 1

 

NAME:

STUDENT NUMBER: 

A.GROUP OF WORDS

 

No

Word

Part Of Speech

Meaning

Synonym

Antonym

1

Bright

Adjective

 

 

 

2

Little

Adjective

 

 

 

3

Strong

Adjective

 

 

 

4

Joyful

Adjective

 

 

 

5

Plain

Adjective

 

 

 

6

Happy

Adjective

 

 

 

7

Entire

Adjecyive

 

 

 

8

Try

Verb

 

 

 

9

Find

Verb

 

 

 

10

Heal

Verb

 

 

 

11

Cenceived

Verb

 

 

 

12

Reveal

Verb

 

 

 

13

Feel

Verb

 

 

 


B.    FIND THE MEANING 

1.     So make a better world

Arti = buatlah dunia yang lebih baik

Makna = Create a world of peace, prosperity, and happiness

Arti makna = Ciptakan dunia yang damai, sejahtera, dan bahagia

2.      Love’s enough for us growing

Arti =

Makna =

Arti Makna = 

3.      Will shine again in grace

Arti =

Makna =

Arti Makna = 

4.      And this place could be much brighter than tomorrow

Arti =

Makna =

Arti Makna =


Sabtu, 31 Desember 2022

Tugas Topik 2 - Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia

 

KONEKSI ANTAR MATERI

PENDIDIKAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA

OLEH : BETA RADISH CHARICA DEWI


Setelah mempelajari  topik  tentang dasar – dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara, saya membuat refleksi mengenai pengetahuan dan pengalaman baru yang saya peroleh dari topik tersebut dan perubahan diri yang saya alami serta akan saya praktekan di kelas saya nantinya. Refleksi tersebut, akan saya tuliskan dengan menjawab 3 pertanyaan pemantik berikut di bawah ini;

1.     Apa yang Anda percaya tentang peserta didik dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari topik ini?  

Sebelum mempelajari topik ini, saya percaya bahwa tugas saya kelak sebagai guru hanya melakukan pengajaran tanpa mencari tau makna pendidikan. Sehingga dalam proses pelaksanaannya, saya akan terpaku pada kurikulum yang memfokuskan transfer ilmu pengetahuan dan berakhir pada penilaian. Dengan kata lain, nilai merupakan tolak ukur keberhasilan dari proses kegiatan belajar mengajar yang saya jalankan. Sehingga dengan begitu saya berfikir bahwa semua peserta didik saya perlakukan saya demi mengejar nilai tersebut. Kemungkinan yang terjadi adalah munculnya rasa tertekan dari peserta didik dalam belajar.

Tidak hanya itu, sebelum mempelajari topik ini, saya masih memandang bahwa pembelajaran satu arah merupakan hal yang mudah dan lumrah. Artinya, sebagai guru, adalah hal yang wajar jika saya hanya menggunakan metode ceramah tanpa mempertimbangkan metode lain yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak dan perkembangan zaman saat ini. Pengunaan media pun menjadi pilihan yang jauh dari pandangan karena saya hanya mempertimbangkan materi di buku yang akan disampaikan. Terbatasnya komunikasi yang interaktif dengan siswa, membuat setiap proses pembelajaran saya memungkinkan untuk tidak melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari. Hal ini karena, pencapaian akhir dari pembelajaran yang saya sampaikan adalah siswa dapat mengerjakan soal dan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.

2.     Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari topik ini?

             Setalah mempelajari topik ini, saya mengetahui bahwa tugas sebagai seorang guru tidak hanya sebatas melakukan pengajaran dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan memperoleh nilai sebagai ukuran keberhasilan. Sistem among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, membuka pemahaman saya bahwa setiap anak memiliki hak untuk dituntun, diberi arahan sesuai dengan perkembangan pengetahuan , karakter dan minat mereka masing – masing melalui pembelajaran yang tidak memaksa, tidak memberikan tekanan dan memanusiakan. Proses pembelajaran dan penilaianpun harus benar – benar diperhatikan mengingat kondisi dan perkembangan anak juga berbeda.  Dalam hal ini, pendidik tidak memiliki kewenganan untuk membentuk anak – anak menjadi seperti apa yang dia inginkan. Pendidik hanya memililiki kewenangan untuk menuntun, agar anak – anak bisa menjadi seperti apa yang mereka inginkan dengan jalan yang terarah dan jauh dari penyimpangan ataupun kesesatan. Dalam proses menuntun ini, guru akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar menggunakan sistem merdeka belajar. Merdeka bukan berarti anak bebas untuk berbuat sesuka hati. Yang dimaksud kemerdekaan disini anak haruslah bertumpu pada ketertiban dan menghormati hak-hak orang lain sehingga mereka mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, dan mampu mengatur hidup mereka nantinya. Konsep merdeka belajar juga dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara melalui semboyannya yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Jika diartikan dalam proses pembelajaran, sebagai seorang pendidik di depan saya harus memberi teladan, di tengah saya harus memberikan motivasi dan di belakang saya  harus mendukung dan menopang (mendorong) anak didik saya untuk berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat.

            Melihat perkembangan zaman pada saat ini, sudah menjadi tugas guru untuk lebih memperhatikan proses pembelajaran yang digunakan. Setelah mempelajari topik ini, saya mengetahui bahwa siswa memiliki kodrat mereka masing – masing yang tidak bisa terlepas dari alam maupun zaman. Dalam proses pembelajaran, guru haruslah mempertimbangkan setidaknya kedua kodrat ini agar bisa tertanam dalam diri anak didiknya. Kodrat zaman saat ini erat kaitannya dengan teknologi. Hasilnya pun menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21 yang dikenal dengan istilah 6C, yakni character education/connectivity (pendidikan karakter/konektivitas), citizenship/culture (kewarganegaraan/budaya), critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreatif), collaboration (kolaborasi), dan communication (komunikasi). Sehingga, pembelajaran satu arah dengan metode ceramah dan penggunaan media buku sebagai sumber belajar utama, sudah kurang sesuai jika diterapkan pada zaman saat ini. Oleh karena itu, saya sebagai guru merasa perlu untuk mengembangkan potensi dan membiasakan diri dengan teknologi untuk memenuhi kebutuhan peserta didik melalui pembelajaran yang inovatif di kemudian hari.  Namun, walaupun proses pembelajaran mengikuti perkembangan yang ada, dasar pengembangan karakter tidak bisa terlepas dari kodrat alam yaitu sosial budaya bangsa Indonesia. Salah satu upaya dalam mengembangkan karakter peserta didik yaitu melalui penguatan profil pelajar pancasila. Budi pekerti juga memiliki peran dalam penanaman karakter pada diri peserta didik. Budi pekerti yang merupakan perpaduan antara Cipta (kognitif) dan Karsa (afektif) akan menciptakan sebuah Karya (psikomotor). Melihat dari hal – hal tersebut, maka melakukan refleksi pada akhir pembelajaran merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Dari refleksi, anak akan mengerti bagaimana menerapkan konsep yang telah mereka terima dengan kondisi kehidupan nyata yang ada. Sehingga, pembelajaran tidak hanya menjadi sebuah kegiatan ceramah, mengerjakan soal, mengumpulkan tugas dan penilaian di atas kertas.

3.     Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda merefleksikan pemikiran KHD?

Yang dapat saya terapkan kelak agar kelas saya merefleksikan pemikiran KHD diantaranya

ü  Mengembangkan kompetensi diri sebagai guru agar bisa menjalankan kelas dengan konsep merdeka belajar

ü  Menjadi teladan untuk siswa agar siswa bisa menyadari bahwa guru tidak hanya sosok yang suka memerintah namun juga memberikan contoh/teladan.

ü  Memberikan motivasi kepada setiap siswa untuk bisa mengembangkan diri mereka dan bereksplorasi dalam memahami materi.

ü  Selalu mendukung minat dan bakat siswa.

ü  Memperhatikan siswa dengan sudut pandang berbeda karena memahami bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan dan karakter masing – masing.

ü  Melakukan penilaian dengan seadil – adilnya dengan mempertimbangkan keberagaman perkembangan peserta didik.

ü  Menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif untuk menghindari kondisi jenuh dan membosankan

ü  Menggunakan media yang memanfaatkan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.

ü  Menanamkan nila – nilai karakter melalui penguatan profil pelajar pancasila.

ü  Melakukan refleksi pada setiap akhir pembelajaran.

Demikian refleksi yang saya lakukan melalui jawaban dari ketiga pertanyaan pemantik. Saya berharap, ini akan menjadi bekal untuk saya dalam menciptakan kelas belajar yang inovatif dan menarik sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Selain itu, saya juga berharap agar bisa menjadi guru yang senantiasa menuntun peserta didik melalui sistem among dengan menerapkan semboyan pendidikan yang telah dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.


Referensi Pemikiran :

Irawati, D., Iqbal, A. M., Hasanah, A., & Arifin, B. S. (2022). Profil pelajar Pancasila sebagai upaya mewujudkan karakter bangsa. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 1224-1238.

Istiq’faroh, N. (2020). Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional Merdeka Belajar di Indonesia. Lintang Songo: Jurnal Pendidikan, 3(2), 1-10.

Philiyanti, F., Prasetio, V. M., & Sari, L. P. (2021). RELEVANSI KEBUTUHAN STAKE HOLDER TERHADAP PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KETERAMPILAN ABAD 21. Kagami: Jurnal Pendidikan dan Bahasa Jepang, 12(2), 12-20.

Senin, 19 Desember 2022

 

Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

Oleh : Beta Radish Charica Dewi



Salam Bahagia,

Dalam pepatah seringkali kita mendengar “tak kenal maka tak sayang”. Maka, tulisan ini akan saya awali dari mengenalkan diri saya, supaya saya menjadi seorang yang turut disayang oleh pembaca.  Nama saya Beta Radish Charica Dewi, anak pertama dari 3 bersaudara. Saya lahir di Wonosobo, yang juga terkenal dengan buah Carica, tepat pada tanggal 20 Januari 1998. Pada usia saya yang hampir memasuki angka 25, saya bersyukur bisa kembali menimba ilmu, menjadi mahasiswi program beasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 dengan  penempatan LPTK di Universitas Negeri Semarang. Mengikuti pendidikan profesi guru prajabatan gelombang 2 merupakan usaha saya untuk memerdekakan diri sendiri sebelum memerdekakan orang lain. Bagi saya, menjadi guru tidak semata – mata hanya mengikuti makna leksikal dari kata mengajar itu saja melainkan ingin turut andil dalam proses mendidik/menuntun generasi penerus bangsa. Menjadi guru dalam pandangan saya juga merupakan sarana maupun wadah untuk menebar manfaat dari potensi yang diri saya miliki. Hadir untuk menemani peserta didik dengan  memasukkan budaya ke dalam diri mereka dan memasukkan mereka ke dalam kebudayaan agar mereka menjadi mahluk yang insani seperti hakikat pendidikan yang telah diutarakan oleh Ki Hajar Dewantara. 

Sering disanjung – sanjung dan dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Indonesia,  membuktikan bahwa Ki Hajar Dewantara memang memiliki peran besar dalam perkembangan pendidikan bangsa. Sosok yang memiliki nama asli Raden Mas (R.M.) Suwardi Suryaningrat lahir pada tanggal 2 mei 1889 di Yogyakarta. Mengganti namanya pada usia 40 tahun, arti nama Ki Hajar Dewantara sendiri adalah Bapak Pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme.  Jejak pendidikan yang pernah ditempuh oleh Ki Hajar Dewantara yaitu, belajar di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Dasar Belanda, Kweekschool (Sekolah Guru) di Yogyakarta dan STOVIA (School Fit Opleiding Van Indische Artsen) atau sekolah dokter jawa di Jakarta yang tidak dapat diselesaikannya. Tidak hanya itu, dalam perjalanannya Ki Hajar Dewantara juga berhasil memperdalam Ilmu Pendidikan dengan mengikuti kursus-kursus tertulis dan kursus-kursus malam hingga berhasil meraih Akte Guru Eropa dalam pendidikan Paedagogie pada 12 Juni 1915.

Ki Hajar Dewantara menjadi saksi perjalanan pendidikan di Indonesia. Pada jaman sebelum kemerdekaan banyak anak – anak dan pemuda yang terbelenggu karena tidak bisa mengenyam pendidikan dengan adil dan nyaman. Sekolah – sekolah kabupaten yang dulu ada, hanya mendidik para calon pegawai. Lahirnya sekolah Bumi Putera juga tetap bertujuan mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu-pembantu perusahaan-perusahaan kepunyaan Belanda. Europeesche Lagere School hanya menerima anak – anak calon peserta didik “dokter jawa”. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Belanda semata-mata mementingkan pendidikan calon-calon pegawai negeri yang menguntungkan pihak mereka.Selain itu, dengan adanya kesenjangan / pembedaan penerimaan pendidikan tentu saja telah mengesampingkan cita – cita kebudayaan. Hal ini membuat bangsa semakin tidak bisa terlepas dari belenggu intelektualisme, individualisme, materialisme dan kolonialisme.

Ki Hajar Dewantara menginsyafi bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari jiwa merdeka dan jiwa  nasional dari bangsanya, maka dari itu diperlukan penanaman jiwa  merdeka yang dimulai sejak anak-anak. Pendidikan Taman Siswa merupakan langkah serius dari Ki Hajar dalam  mendidik kader-kader perjuangan untuk menentang penjajah dari segi dunia pendidikan. Selain itu Taman Siswa merupakan gerakan memperjuangkan hak rakyat Indonesia untuk menikmati pendidikan bagi rakyat Indonesia. Taman siswa dicetuskan dengan berbagai tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah Taman Anak atau Taman Lare, yaitu satuan pendidikan setingkat Taman KanakKanak (Taman Indria). Tingkatan kedua yaitu “Mulo Kweekshool” setingkat SMP dengan pendidikan guru (4 tahun sesudah pendidikan dasar). Tingkatan ketiga yaitu Mulo Kweekshool dapat masuk AMS (Algemene Middelbare School) setingkat SMA Negeri hampir 70%. atas perjuangan Ki Hajar Dewantara yang gigih, ratusan Perguruan Taman Siswa berhasil tumbuh di mana-mana dengan dijiwai oleh semangat cinta tanah air. Masyarakat menyambut dengan luar biasa hadirnya taman siswa sebagai lembaga pendidikan yang berhasil meletakkan dasar - dasar pendidikan yang memerdekakan. Konsepsi pendidikan yang memerdekakan dengan mengedepankan nilai luhur kebudayaan.  

Keberhasilan Taman Siswa tidak lantas membuat bangsa Indonesia terlepas dari belenggu – belenggu permasalahan pendidikan selepas kemerdekaan. Para panjajah memang telah pergi namun belenggu itu masih mewarnai negeri.  Pendidikan yang belum merata, rendahnya mutu dan relevansi pendidikan, ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan menjadi beberapa diantaranya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim lantas mencetuskan kebijakan kurikulum baru yang disebut merdeka belajar / kurikukum merdeka untuk membebaskan dunia pendidikan dari belenggu. Mengedepankan model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan peserta didik kebebasan untuk melakukan kegiatan eksplorasi, observasi, penilaian dan interpretasi untuk memperoleh pengetahuan baru, keterampilan baru serta sikap sosial yang baik. Sebagai calon guru, penulis pun akan menawarkan  pembelajaran berbasis proyek atau project based learning  sebagai model pembelajaran dalam implementasi kurikulum merdeka yang akan dijalankan beriringan dengan siswa.

Setelah mengikuti serangkaian perjalanan pendidikan nasional, saya banyak mendapatkan wawasan yang akhirnya menjadi bekal untuk terjun dalam dunia pendidikan. Semakin tergerak dan termotivasi untuk bisa menjadi pendidik professional yang bisa mendidik dan menuntun adalah perubahan yang secara langsung bisa dirasakan. Memiliki pandangan yang luas mengenai perjalanan pendidikan nasional Indonesia, menjadikan saya lebih bijaksana dalam menyikapi permasalahan pendidikan itu sendiri. Konsep – konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara (Tri Pusat pendidikan, ajaran Trikon, Tri No, Tiga semboyan pendidikan, dll) juga membuat saya lebih hati – hati dan percaya diri dalam mengimplementasikannya di sekolah nanti.  Berusaha untuk berpihak kepada peserta didik tanpa terkecuali, akan penulis lakukan dengan menyadari betul bahwa setiap mahluk memiliki kodrat untuk mereka hidup dan tumbuh. Menempatkan diri sebagai penuntun dan perawat, layaknya seorang petani, saya sebagai guru tidak akan bisa mengubah padi menjadi jagung begitupun sebaliknya. Yang bisa  saya lakukan adalah bagaimana agar saya bisa merawat mereka untuk mencapai hasil dengan kualitas terbaik tanpa harus membeda – bedakan dan memaksakan, melainkan dengan  membuka kesempatan peserta didik untuk unggul dalam bidang yang mereka kuasai dengan bimbingan terpadu dari guru.

 

Sumber Referensi :

Wiryopranoto, S., Herlina, N., Marihandono, D., & Tangkilisan, Y. B. (2017). Ki Hajar Dewantara: pemikiran dan perjuangannya. Museum Kebangkitan Nasional.

Marisa, M. (2021). Inovasi kurikulum “Merdeka Belajar” di era society 5.0. Santhet:(Jurnal Sejarah, Pendidikan, Dan Humaniora), 5(1), 66-78.

Suparlan, H. (2015). FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA  DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN   INDONESIA. Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 1, Februari 2015

Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November 1956

Sumber Foto :

Tuti Awaliyah. “Aku Guru, Kontribusiku untuk Pendidikan Indonesia”. Link : https://www.gurusiana.id/read/tutialawiyahspdmpd/article/aku-guru-kontribusiku-untuk-pendidikan-indonesia-50516