Sabtu, 31 Desember 2022

Tugas Topik 2 - Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia

 

KONEKSI ANTAR MATERI

PENDIDIKAN DAN NILAI SOSIAL BUDAYA

OLEH : BETA RADISH CHARICA DEWI


Setelah mempelajari  topik  tentang dasar – dasar pendidikan Ki Hadjar Dewantara, saya membuat refleksi mengenai pengetahuan dan pengalaman baru yang saya peroleh dari topik tersebut dan perubahan diri yang saya alami serta akan saya praktekan di kelas saya nantinya. Refleksi tersebut, akan saya tuliskan dengan menjawab 3 pertanyaan pemantik berikut di bawah ini;

1.     Apa yang Anda percaya tentang peserta didik dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari topik ini?  

Sebelum mempelajari topik ini, saya percaya bahwa tugas saya kelak sebagai guru hanya melakukan pengajaran tanpa mencari tau makna pendidikan. Sehingga dalam proses pelaksanaannya, saya akan terpaku pada kurikulum yang memfokuskan transfer ilmu pengetahuan dan berakhir pada penilaian. Dengan kata lain, nilai merupakan tolak ukur keberhasilan dari proses kegiatan belajar mengajar yang saya jalankan. Sehingga dengan begitu saya berfikir bahwa semua peserta didik saya perlakukan saya demi mengejar nilai tersebut. Kemungkinan yang terjadi adalah munculnya rasa tertekan dari peserta didik dalam belajar.

Tidak hanya itu, sebelum mempelajari topik ini, saya masih memandang bahwa pembelajaran satu arah merupakan hal yang mudah dan lumrah. Artinya, sebagai guru, adalah hal yang wajar jika saya hanya menggunakan metode ceramah tanpa mempertimbangkan metode lain yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan anak dan perkembangan zaman saat ini. Pengunaan media pun menjadi pilihan yang jauh dari pandangan karena saya hanya mempertimbangkan materi di buku yang akan disampaikan. Terbatasnya komunikasi yang interaktif dengan siswa, membuat setiap proses pembelajaran saya memungkinkan untuk tidak melakukan refleksi terhadap materi yang telah dipelajari. Hal ini karena, pencapaian akhir dari pembelajaran yang saya sampaikan adalah siswa dapat mengerjakan soal dan mengumpulkan tugas dengan tepat waktu.

2.     Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari topik ini?

             Setalah mempelajari topik ini, saya mengetahui bahwa tugas sebagai seorang guru tidak hanya sebatas melakukan pengajaran dengan mentransfer ilmu pengetahuan dan memperoleh nilai sebagai ukuran keberhasilan. Sistem among yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara, membuka pemahaman saya bahwa setiap anak memiliki hak untuk dituntun, diberi arahan sesuai dengan perkembangan pengetahuan , karakter dan minat mereka masing – masing melalui pembelajaran yang tidak memaksa, tidak memberikan tekanan dan memanusiakan. Proses pembelajaran dan penilaianpun harus benar – benar diperhatikan mengingat kondisi dan perkembangan anak juga berbeda.  Dalam hal ini, pendidik tidak memiliki kewenganan untuk membentuk anak – anak menjadi seperti apa yang dia inginkan. Pendidik hanya memililiki kewenangan untuk menuntun, agar anak – anak bisa menjadi seperti apa yang mereka inginkan dengan jalan yang terarah dan jauh dari penyimpangan ataupun kesesatan. Dalam proses menuntun ini, guru akan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar menggunakan sistem merdeka belajar. Merdeka bukan berarti anak bebas untuk berbuat sesuka hati. Yang dimaksud kemerdekaan disini anak haruslah bertumpu pada ketertiban dan menghormati hak-hak orang lain sehingga mereka mampu untuk berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, dan mampu mengatur hidup mereka nantinya. Konsep merdeka belajar juga dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara melalui semboyannya yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Jika diartikan dalam proses pembelajaran, sebagai seorang pendidik di depan saya harus memberi teladan, di tengah saya harus memberikan motivasi dan di belakang saya  harus mendukung dan menopang (mendorong) anak didik saya untuk berkarya ke arah yang benar bagi hidup masyarakat.

            Melihat perkembangan zaman pada saat ini, sudah menjadi tugas guru untuk lebih memperhatikan proses pembelajaran yang digunakan. Setelah mempelajari topik ini, saya mengetahui bahwa siswa memiliki kodrat mereka masing – masing yang tidak bisa terlepas dari alam maupun zaman. Dalam proses pembelajaran, guru haruslah mempertimbangkan setidaknya kedua kodrat ini agar bisa tertanam dalam diri anak didiknya. Kodrat zaman saat ini erat kaitannya dengan teknologi. Hasilnya pun menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan abad 21 yang dikenal dengan istilah 6C, yakni character education/connectivity (pendidikan karakter/konektivitas), citizenship/culture (kewarganegaraan/budaya), critical thinking (berpikir kritis), creativity (kreatif), collaboration (kolaborasi), dan communication (komunikasi). Sehingga, pembelajaran satu arah dengan metode ceramah dan penggunaan media buku sebagai sumber belajar utama, sudah kurang sesuai jika diterapkan pada zaman saat ini. Oleh karena itu, saya sebagai guru merasa perlu untuk mengembangkan potensi dan membiasakan diri dengan teknologi untuk memenuhi kebutuhan peserta didik melalui pembelajaran yang inovatif di kemudian hari.  Namun, walaupun proses pembelajaran mengikuti perkembangan yang ada, dasar pengembangan karakter tidak bisa terlepas dari kodrat alam yaitu sosial budaya bangsa Indonesia. Salah satu upaya dalam mengembangkan karakter peserta didik yaitu melalui penguatan profil pelajar pancasila. Budi pekerti juga memiliki peran dalam penanaman karakter pada diri peserta didik. Budi pekerti yang merupakan perpaduan antara Cipta (kognitif) dan Karsa (afektif) akan menciptakan sebuah Karya (psikomotor). Melihat dari hal – hal tersebut, maka melakukan refleksi pada akhir pembelajaran merupakan hal yang penting untuk dilakukan. Dari refleksi, anak akan mengerti bagaimana menerapkan konsep yang telah mereka terima dengan kondisi kehidupan nyata yang ada. Sehingga, pembelajaran tidak hanya menjadi sebuah kegiatan ceramah, mengerjakan soal, mengumpulkan tugas dan penilaian di atas kertas.

3.     Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda merefleksikan pemikiran KHD?

Yang dapat saya terapkan kelak agar kelas saya merefleksikan pemikiran KHD diantaranya

ü  Mengembangkan kompetensi diri sebagai guru agar bisa menjalankan kelas dengan konsep merdeka belajar

ü  Menjadi teladan untuk siswa agar siswa bisa menyadari bahwa guru tidak hanya sosok yang suka memerintah namun juga memberikan contoh/teladan.

ü  Memberikan motivasi kepada setiap siswa untuk bisa mengembangkan diri mereka dan bereksplorasi dalam memahami materi.

ü  Selalu mendukung minat dan bakat siswa.

ü  Memperhatikan siswa dengan sudut pandang berbeda karena memahami bahwa setiap peserta didik memiliki keunikan dan karakter masing – masing.

ü  Melakukan penilaian dengan seadil – adilnya dengan mempertimbangkan keberagaman perkembangan peserta didik.

ü  Menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif untuk menghindari kondisi jenuh dan membosankan

ü  Menggunakan media yang memanfaatkan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman saat ini.

ü  Menanamkan nila – nilai karakter melalui penguatan profil pelajar pancasila.

ü  Melakukan refleksi pada setiap akhir pembelajaran.

Demikian refleksi yang saya lakukan melalui jawaban dari ketiga pertanyaan pemantik. Saya berharap, ini akan menjadi bekal untuk saya dalam menciptakan kelas belajar yang inovatif dan menarik sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Selain itu, saya juga berharap agar bisa menjadi guru yang senantiasa menuntun peserta didik melalui sistem among dengan menerapkan semboyan pendidikan yang telah dicetuskan oleh Ki Hadjar Dewantara.


Referensi Pemikiran :

Irawati, D., Iqbal, A. M., Hasanah, A., & Arifin, B. S. (2022). Profil pelajar Pancasila sebagai upaya mewujudkan karakter bangsa. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 1224-1238.

Istiq’faroh, N. (2020). Relevansi Filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai Dasar Kebijakan Pendidikan Nasional Merdeka Belajar di Indonesia. Lintang Songo: Jurnal Pendidikan, 3(2), 1-10.

Philiyanti, F., Prasetio, V. M., & Sari, L. P. (2021). RELEVANSI KEBUTUHAN STAKE HOLDER TERHADAP PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KETERAMPILAN ABAD 21. Kagami: Jurnal Pendidikan dan Bahasa Jepang, 12(2), 12-20.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar