Senin, 19 Desember 2022

 

Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional

Oleh : Beta Radish Charica Dewi



Salam Bahagia,

Dalam pepatah seringkali kita mendengar “tak kenal maka tak sayang”. Maka, tulisan ini akan saya awali dari mengenalkan diri saya, supaya saya menjadi seorang yang turut disayang oleh pembaca.  Nama saya Beta Radish Charica Dewi, anak pertama dari 3 bersaudara. Saya lahir di Wonosobo, yang juga terkenal dengan buah Carica, tepat pada tanggal 20 Januari 1998. Pada usia saya yang hampir memasuki angka 25, saya bersyukur bisa kembali menimba ilmu, menjadi mahasiswi program beasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2 dengan  penempatan LPTK di Universitas Negeri Semarang. Mengikuti pendidikan profesi guru prajabatan gelombang 2 merupakan usaha saya untuk memerdekakan diri sendiri sebelum memerdekakan orang lain. Bagi saya, menjadi guru tidak semata – mata hanya mengikuti makna leksikal dari kata mengajar itu saja melainkan ingin turut andil dalam proses mendidik/menuntun generasi penerus bangsa. Menjadi guru dalam pandangan saya juga merupakan sarana maupun wadah untuk menebar manfaat dari potensi yang diri saya miliki. Hadir untuk menemani peserta didik dengan  memasukkan budaya ke dalam diri mereka dan memasukkan mereka ke dalam kebudayaan agar mereka menjadi mahluk yang insani seperti hakikat pendidikan yang telah diutarakan oleh Ki Hajar Dewantara. 

Sering disanjung – sanjung dan dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Indonesia,  membuktikan bahwa Ki Hajar Dewantara memang memiliki peran besar dalam perkembangan pendidikan bangsa. Sosok yang memiliki nama asli Raden Mas (R.M.) Suwardi Suryaningrat lahir pada tanggal 2 mei 1889 di Yogyakarta. Mengganti namanya pada usia 40 tahun, arti nama Ki Hajar Dewantara sendiri adalah Bapak Pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme.  Jejak pendidikan yang pernah ditempuh oleh Ki Hajar Dewantara yaitu, belajar di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah Dasar Belanda, Kweekschool (Sekolah Guru) di Yogyakarta dan STOVIA (School Fit Opleiding Van Indische Artsen) atau sekolah dokter jawa di Jakarta yang tidak dapat diselesaikannya. Tidak hanya itu, dalam perjalanannya Ki Hajar Dewantara juga berhasil memperdalam Ilmu Pendidikan dengan mengikuti kursus-kursus tertulis dan kursus-kursus malam hingga berhasil meraih Akte Guru Eropa dalam pendidikan Paedagogie pada 12 Juni 1915.

Ki Hajar Dewantara menjadi saksi perjalanan pendidikan di Indonesia. Pada jaman sebelum kemerdekaan banyak anak – anak dan pemuda yang terbelenggu karena tidak bisa mengenyam pendidikan dengan adil dan nyaman. Sekolah – sekolah kabupaten yang dulu ada, hanya mendidik para calon pegawai. Lahirnya sekolah Bumi Putera juga tetap bertujuan mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu-pembantu perusahaan-perusahaan kepunyaan Belanda. Europeesche Lagere School hanya menerima anak – anak calon peserta didik “dokter jawa”. Ini menunjukkan bahwa pemerintah Belanda semata-mata mementingkan pendidikan calon-calon pegawai negeri yang menguntungkan pihak mereka.Selain itu, dengan adanya kesenjangan / pembedaan penerimaan pendidikan tentu saja telah mengesampingkan cita – cita kebudayaan. Hal ini membuat bangsa semakin tidak bisa terlepas dari belenggu intelektualisme, individualisme, materialisme dan kolonialisme.

Ki Hajar Dewantara menginsyafi bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari jiwa merdeka dan jiwa  nasional dari bangsanya, maka dari itu diperlukan penanaman jiwa  merdeka yang dimulai sejak anak-anak. Pendidikan Taman Siswa merupakan langkah serius dari Ki Hajar dalam  mendidik kader-kader perjuangan untuk menentang penjajah dari segi dunia pendidikan. Selain itu Taman Siswa merupakan gerakan memperjuangkan hak rakyat Indonesia untuk menikmati pendidikan bagi rakyat Indonesia. Taman siswa dicetuskan dengan berbagai tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah Taman Anak atau Taman Lare, yaitu satuan pendidikan setingkat Taman KanakKanak (Taman Indria). Tingkatan kedua yaitu “Mulo Kweekshool” setingkat SMP dengan pendidikan guru (4 tahun sesudah pendidikan dasar). Tingkatan ketiga yaitu Mulo Kweekshool dapat masuk AMS (Algemene Middelbare School) setingkat SMA Negeri hampir 70%. atas perjuangan Ki Hajar Dewantara yang gigih, ratusan Perguruan Taman Siswa berhasil tumbuh di mana-mana dengan dijiwai oleh semangat cinta tanah air. Masyarakat menyambut dengan luar biasa hadirnya taman siswa sebagai lembaga pendidikan yang berhasil meletakkan dasar - dasar pendidikan yang memerdekakan. Konsepsi pendidikan yang memerdekakan dengan mengedepankan nilai luhur kebudayaan.  

Keberhasilan Taman Siswa tidak lantas membuat bangsa Indonesia terlepas dari belenggu – belenggu permasalahan pendidikan selepas kemerdekaan. Para panjajah memang telah pergi namun belenggu itu masih mewarnai negeri.  Pendidikan yang belum merata, rendahnya mutu dan relevansi pendidikan, ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan menjadi beberapa diantaranya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim lantas mencetuskan kebijakan kurikulum baru yang disebut merdeka belajar / kurikukum merdeka untuk membebaskan dunia pendidikan dari belenggu. Mengedepankan model pembelajaran berbasis proyek atau project based learning, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan peserta didik kebebasan untuk melakukan kegiatan eksplorasi, observasi, penilaian dan interpretasi untuk memperoleh pengetahuan baru, keterampilan baru serta sikap sosial yang baik. Sebagai calon guru, penulis pun akan menawarkan  pembelajaran berbasis proyek atau project based learning  sebagai model pembelajaran dalam implementasi kurikulum merdeka yang akan dijalankan beriringan dengan siswa.

Setelah mengikuti serangkaian perjalanan pendidikan nasional, saya banyak mendapatkan wawasan yang akhirnya menjadi bekal untuk terjun dalam dunia pendidikan. Semakin tergerak dan termotivasi untuk bisa menjadi pendidik professional yang bisa mendidik dan menuntun adalah perubahan yang secara langsung bisa dirasakan. Memiliki pandangan yang luas mengenai perjalanan pendidikan nasional Indonesia, menjadikan saya lebih bijaksana dalam menyikapi permasalahan pendidikan itu sendiri. Konsep – konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara (Tri Pusat pendidikan, ajaran Trikon, Tri No, Tiga semboyan pendidikan, dll) juga membuat saya lebih hati – hati dan percaya diri dalam mengimplementasikannya di sekolah nanti.  Berusaha untuk berpihak kepada peserta didik tanpa terkecuali, akan penulis lakukan dengan menyadari betul bahwa setiap mahluk memiliki kodrat untuk mereka hidup dan tumbuh. Menempatkan diri sebagai penuntun dan perawat, layaknya seorang petani, saya sebagai guru tidak akan bisa mengubah padi menjadi jagung begitupun sebaliknya. Yang bisa  saya lakukan adalah bagaimana agar saya bisa merawat mereka untuk mencapai hasil dengan kualitas terbaik tanpa harus membeda – bedakan dan memaksakan, melainkan dengan  membuka kesempatan peserta didik untuk unggul dalam bidang yang mereka kuasai dengan bimbingan terpadu dari guru.

 

Sumber Referensi :

Wiryopranoto, S., Herlina, N., Marihandono, D., & Tangkilisan, Y. B. (2017). Ki Hajar Dewantara: pemikiran dan perjuangannya. Museum Kebangkitan Nasional.

Marisa, M. (2021). Inovasi kurikulum “Merdeka Belajar” di era society 5.0. Santhet:(Jurnal Sejarah, Pendidikan, Dan Humaniora), 5(1), 66-78.

Suparlan, H. (2015). FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA  DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN   INDONESIA. Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 1, Februari 2015

Pidato Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November 1956

Sumber Foto :

Tuti Awaliyah. “Aku Guru, Kontribusiku untuk Pendidikan Indonesia”. Link : https://www.gurusiana.id/read/tutialawiyahspdmpd/article/aku-guru-kontribusiku-untuk-pendidikan-indonesia-50516

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar