Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan
Pendidikan Nasional
Oleh : Beta Radish Charica Dewi
Salam Bahagia,
Dalam
pepatah seringkali kita mendengar “tak kenal maka tak sayang”. Maka, tulisan
ini akan saya awali dari mengenalkan diri saya, supaya saya menjadi seorang
yang turut disayang oleh pembaca. Nama
saya Beta Radish Charica Dewi, anak pertama dari 3 bersaudara. Saya lahir di
Wonosobo, yang juga terkenal dengan buah Carica, tepat pada tanggal 20 Januari
1998. Pada usia saya yang hampir memasuki angka 25, saya bersyukur bisa kembali
menimba ilmu, menjadi mahasiswi program beasiswa PPG Prajabatan Gelombang 2
dengan penempatan LPTK di Universitas
Negeri Semarang. Mengikuti pendidikan profesi guru prajabatan gelombang 2
merupakan usaha saya untuk memerdekakan diri sendiri sebelum memerdekakan orang
lain. Bagi saya, menjadi guru tidak semata – mata hanya mengikuti makna leksikal
dari kata mengajar itu saja melainkan ingin turut andil dalam proses mendidik/menuntun
generasi penerus bangsa. Menjadi guru dalam pandangan saya juga merupakan
sarana maupun wadah untuk menebar manfaat dari potensi yang diri saya miliki.
Hadir untuk menemani peserta didik dengan
memasukkan budaya ke dalam diri mereka dan memasukkan mereka ke dalam
kebudayaan agar mereka menjadi mahluk yang insani seperti hakikat pendidikan
yang telah diutarakan oleh Ki Hajar Dewantara.
Sering
disanjung – sanjung dan dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, Pahlawan Nasional
dan Bapak Pendidikan Indonesia,
membuktikan bahwa Ki Hajar Dewantara memang memiliki peran besar dalam
perkembangan pendidikan bangsa. Sosok yang memiliki nama asli Raden Mas (R.M.)
Suwardi Suryaningrat lahir pada tanggal 2 mei 1889 di Yogyakarta. Mengganti
namanya pada usia 40 tahun, arti nama Ki Hajar Dewantara sendiri adalah Bapak
Pendidik utusan rakyat yang tak tertandingi menghadapi kolonialisme. Jejak pendidikan yang pernah ditempuh oleh Ki
Hajar Dewantara yaitu, belajar di Europeesche Lagere School (ELS) atau Sekolah
Dasar Belanda, Kweekschool (Sekolah Guru) di Yogyakarta dan STOVIA (School Fit
Opleiding Van Indische Artsen) atau sekolah dokter jawa di Jakarta yang tidak
dapat diselesaikannya. Tidak hanya itu, dalam perjalanannya Ki Hajar Dewantara
juga berhasil memperdalam Ilmu Pendidikan dengan mengikuti kursus-kursus
tertulis dan kursus-kursus malam hingga berhasil meraih Akte Guru Eropa dalam
pendidikan Paedagogie pada 12 Juni 1915.
Ki
Hajar Dewantara menjadi saksi perjalanan pendidikan di Indonesia. Pada jaman
sebelum kemerdekaan banyak anak – anak dan pemuda yang terbelenggu karena tidak
bisa mengenyam pendidikan dengan adil dan nyaman. Sekolah – sekolah kabupaten
yang dulu ada, hanya mendidik para calon pegawai. Lahirnya sekolah Bumi Putera
juga tetap bertujuan mendidik calon-calon pegawai negeri dan pembantu-pembantu
perusahaan-perusahaan kepunyaan Belanda. Europeesche
Lagere School hanya menerima anak – anak calon peserta didik “dokter jawa”.
Ini menunjukkan bahwa pemerintah Belanda semata-mata mementingkan pendidikan
calon-calon pegawai negeri yang menguntungkan pihak mereka.Selain itu, dengan
adanya kesenjangan / pembedaan penerimaan pendidikan tentu saja telah
mengesampingkan cita – cita kebudayaan. Hal ini membuat bangsa semakin tidak
bisa terlepas dari belenggu intelektualisme, individualisme, materialisme dan
kolonialisme.
Ki
Hajar Dewantara menginsyafi bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa harus didasari
jiwa merdeka dan jiwa nasional dari
bangsanya, maka dari itu diperlukan penanaman jiwa merdeka yang dimulai sejak anak-anak.
Pendidikan Taman Siswa merupakan langkah serius dari Ki Hajar dalam mendidik kader-kader perjuangan untuk
menentang penjajah dari segi dunia pendidikan. Selain itu Taman Siswa merupakan
gerakan memperjuangkan hak rakyat Indonesia untuk menikmati pendidikan bagi
rakyat Indonesia. Taman siswa dicetuskan dengan berbagai tingkatan. Tingkatan yang
pertama adalah Taman Anak atau Taman Lare, yaitu satuan pendidikan setingkat
Taman KanakKanak (Taman Indria). Tingkatan kedua yaitu “Mulo Kweekshool”
setingkat SMP dengan pendidikan guru (4 tahun sesudah pendidikan dasar).
Tingkatan ketiga yaitu Mulo Kweekshool dapat masuk AMS (Algemene Middelbare
School) setingkat SMA Negeri hampir 70%. atas perjuangan Ki Hajar Dewantara
yang gigih, ratusan Perguruan Taman Siswa berhasil tumbuh di mana-mana dengan
dijiwai oleh semangat cinta tanah air. Masyarakat menyambut dengan luar biasa
hadirnya taman siswa sebagai lembaga pendidikan yang berhasil meletakkan dasar
- dasar pendidikan yang memerdekakan. Konsepsi pendidikan yang memerdekakan
dengan mengedepankan nilai luhur kebudayaan.
Keberhasilan
Taman Siswa tidak lantas membuat bangsa Indonesia terlepas dari belenggu –
belenggu permasalahan pendidikan selepas kemerdekaan. Para panjajah memang
telah pergi namun belenggu itu masih mewarnai negeri. Pendidikan yang belum merata, rendahnya mutu
dan relevansi pendidikan, ketidakefektifan pelaksanaan pendidikan menjadi
beberapa diantaranya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim lantas
mencetuskan kebijakan kurikulum baru yang disebut merdeka belajar / kurikukum
merdeka untuk membebaskan dunia pendidikan dari belenggu. Mengedepankan model
pembelajaran berbasis proyek atau project
based learning, kebijakan ini diharapkan dapat memberikan peserta didik kebebasan
untuk melakukan kegiatan eksplorasi, observasi, penilaian dan interpretasi
untuk memperoleh pengetahuan baru, keterampilan baru serta sikap sosial yang
baik. Sebagai calon guru, penulis pun akan menawarkan pembelajaran berbasis proyek atau project based learning sebagai model pembelajaran dalam implementasi kurikulum
merdeka yang akan dijalankan beriringan dengan siswa.
Setelah
mengikuti serangkaian perjalanan pendidikan nasional, saya banyak mendapatkan
wawasan yang akhirnya menjadi bekal untuk terjun dalam dunia pendidikan. Semakin
tergerak dan termotivasi untuk bisa menjadi pendidik professional yang bisa
mendidik dan menuntun adalah perubahan yang secara langsung bisa dirasakan.
Memiliki pandangan yang luas mengenai perjalanan pendidikan nasional Indonesia,
menjadikan saya lebih bijaksana dalam menyikapi permasalahan pendidikan itu
sendiri. Konsep – konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara (Tri Pusat
pendidikan, ajaran Trikon, Tri No, Tiga semboyan pendidikan, dll) juga membuat saya
lebih hati – hati dan percaya diri dalam mengimplementasikannya di sekolah
nanti. Berusaha untuk berpihak kepada
peserta didik tanpa terkecuali, akan penulis lakukan dengan menyadari betul
bahwa setiap mahluk memiliki kodrat untuk mereka hidup dan tumbuh. Menempatkan
diri sebagai penuntun dan perawat, layaknya seorang petani, saya sebagai guru
tidak akan bisa mengubah padi menjadi jagung begitupun sebaliknya. Yang
bisa saya lakukan adalah bagaimana agar
saya bisa merawat mereka untuk mencapai hasil dengan kualitas terbaik tanpa
harus membeda – bedakan dan memaksakan, melainkan dengan membuka kesempatan peserta didik untuk unggul
dalam bidang yang mereka kuasai dengan bimbingan terpadu dari guru.
Sumber
Referensi :
Wiryopranoto,
S., Herlina, N., Marihandono, D., & Tangkilisan, Y. B. (2017). Ki Hajar
Dewantara: pemikiran dan perjuangannya. Museum Kebangkitan Nasional.
Marisa,
M. (2021). Inovasi kurikulum “Merdeka Belajar” di era society 5.0.
Santhet:(Jurnal Sejarah, Pendidikan, Dan Humaniora), 5(1), 66-78.
Suparlan,
H. (2015). FILSAFAT PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA DAN SUMBANGANNYA BAGI PENDIDIKAN INDONESIA.
Jurnal Filsafat, Vol. 25, No. 1, Februari 2015
Pidato
Sambutan Ki Hadjar Dewantara. Dewan Senat Universitas Gadjah Mada, 7 November
1956
Sumber
Foto :
Tuti
Awaliyah. “Aku Guru, Kontribusiku untuk Pendidikan Indonesia”. Link : https://www.gurusiana.id/read/tutialawiyahspdmpd/article/aku-guru-kontribusiku-untuk-pendidikan-indonesia-50516

Tidak ada komentar:
Posting Komentar