Larik - larik pohon jati tegak berdiri ditepi jalan berliku.
Alam mengumandangkan kidung kedukaan, lantas pagi mengembalikan jiwa bocahku.
Matahari tak mau berbagi sinarnya. Dingin merajai dengan angkuhnya.
Malam menguak tabir, menggelar abu-abu yang dulu tabu. Sang
Bapa merapal 'Mijil' hingga 'Pocung', mengajak seluruh jagad membaca sipat.
Sang Rena (ibu) memangku Si Ponang (bayi) dan menyelimutinya dengan jarik motif
'Parang curigo ceplok kepet'.
Sedang aku memainkan nada-nada asmara
untuk mengoyak suci menjadi lara. Di bawah sinaran Chandra.
Diriku bermandikan cahaya putih yang nyata. Aku menyambutnya dengan memerankan
opera jawa. Di tepi gemericik bengawan saat malam, syair-syair terlantunkan
memilukan, tubuh menari menumpahkan kekalutan.
Duka menyelimuti kaki, tak mampu berdiri.
Kibasan sampur membuatku tersungkur. Aku merangkak menuju
pelataran, menjauhi riak air yang tenang. Berlinang darah. Chandra menatapku
iba dari langit sana. Malam semakin mengutuhkanku pada jiwa bocahku. Lalu
akhirnya air mata memainkan perannya.
Kabut semakin tebal. Debur.. Deru..
Alam semesta mengutukku juga rasaku.
Pelangi senja hari tadi mengantarkan burung-burung pulang ke
sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak ke mana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga
Sang Rena, aku menginginkan telapak kakinya. Menginginkan
tidur di 'pangkon'nya berselimutkan jarik 'bledak sidoluhur' seperti dulu saat
aku masih sering 'dikudang' dan 'digadhang'.
Badan terbujur hingga rasanya hampir melebur. Tak ada lagi yang
mampu di pandang mata saat duka nestapa mengekang jiwa. Entah bagaimana langit
masih berbaik. Angin mengantar ruhku sampai ke 'pangkon' Sang Rena. Rambutnya
terlihat memutih, namun paras ayunya tak pernah tersisih. Telapak tangannya
masih hangat ketika menyentuh rambutku yang bergelung. Jarinya mengurai
rambutku hingga tergerai lalu meletakkan kepalaku pada 'pangkon'nya yang tak
sekokoh biasanya. Ku tahu waktu bocahku akan sirna saat matahari tiba. Disisa
malam yang ada, aku berkata "Ibu, ceritakan padaku tentang perjalanan
Raden Bratasena saat mencari Tirta Prawita".



















