Selasa, 27 Maret 2018


Larik - larik pohon jati tegak berdiri ditepi jalan berliku. Alam mengumandangkan kidung kedukaan, lantas pagi mengembalikan jiwa bocahku. Matahari tak mau berbagi sinarnya. Dingin merajai dengan angkuhnya.

Malam menguak tabir, menggelar abu-abu yang dulu tabu. Sang Bapa merapal 'Mijil' hingga 'Pocung', mengajak seluruh jagad membaca sipat. Sang Rena (ibu) memangku Si Ponang (bayi) dan menyelimutinya dengan jarik motif 'Parang curigo ceplok kepet'.

Sedang aku memainkan nada-nada asmara
untuk mengoyak suci menjadi lara. Di bawah sinaran Chandra. Diriku bermandikan cahaya putih yang nyata. Aku menyambutnya dengan memerankan opera jawa. Di tepi gemericik bengawan saat malam, syair-syair terlantunkan memilukan, tubuh menari menumpahkan kekalutan.
Duka menyelimuti kaki, tak mampu berdiri.
Kibasan sampur membuatku tersungkur. Aku merangkak menuju pelataran, menjauhi riak air yang tenang. Berlinang darah. Chandra menatapku iba dari langit sana. Malam semakin mengutuhkanku pada jiwa bocahku. Lalu akhirnya air mata memainkan perannya. 

Kabut semakin tebal. Debur.. Deru..
Alam semesta mengutukku juga rasaku.
Pelangi senja hari tadi mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak ke mana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga
Sang Rena, aku menginginkan telapak kakinya. Menginginkan tidur di 'pangkon'nya berselimutkan jarik 'bledak sidoluhur' seperti dulu saat aku masih sering 'dikudang' dan 'digadhang'.

Badan terbujur hingga rasanya hampir melebur. Tak ada lagi yang mampu di pandang mata saat duka nestapa mengekang jiwa. Entah bagaimana langit masih berbaik. Angin mengantar ruhku sampai ke 'pangkon' Sang Rena. Rambutnya terlihat memutih, namun paras ayunya tak pernah tersisih. Telapak tangannya masih hangat ketika menyentuh rambutku yang bergelung. Jarinya mengurai rambutku hingga tergerai lalu meletakkan kepalaku pada 'pangkon'nya yang tak sekokoh biasanya. Ku tahu waktu bocahku akan sirna saat matahari tiba. Disisa malam yang ada, aku berkata "Ibu, ceritakan padaku tentang perjalanan Raden Bratasena saat mencari Tirta Prawita".


Jumat, 16 Maret 2018

Simple Recount Text "My Little Memories of The Boy Scouts"



When I was in senior high school, I joined the Boy Scouts organization. And two years ago I had officially stopped for being part of it. It had became a culture that the organization would be forwarding by the new stewardship. Therefore, for reorganization the coach made a farewell event at Setrojenar Beach, Kebumen.
The old work council and the new work council leaved from high school at 07.00 a.m by truck. Along the way we sang, shouted some yells and other scout songs. Some kind of pat we did and it could stole the attention of the people who saw us.
When we arrived at Setrojenar beach, we set up a tent. After a short rest we regrouped to hear some instructions from the coach. From 09.00 a.m until 11.30 a.m we did some official scouting activities. Such as finding traces, interviewing for new members, and doing some tests on scouting to broaden the insights of the new members. As an old member or examiner, my duties just sit in the prescribed post and wait for the new members came to receive the instructions from me.
At 12:00 a.m, a series of official events for new members is completed. We pray together under the pine trees. By rolling out the mats to the breath of the breeze, our prayers went solemnly. As planned, after lunch we did Rujakan. We used makeshift tools. Even for a place of Rujak, each of us used a cover cardboard of lunch.
 Our togetherness became more pronounced when we arrived at the peak of the event. We formed a circle of friendship and we did some games. Sang and laugh together. Before we went home we played water on the beach and captured some moments there. This was really sweet and happy moment and I always miss for being a part of the Boy Scouts.

Rasa Takut


Menurut kehidupan manusia adalah rasa takut. Manusia selalu berhasil menemukan alasan untuk punya rasa takut. Jalan hidup yang kita pilih dalam hidup kita, itu juga terkadang diputuskan oleh rasa takut. Sebuah hati yang penuh rasa takut akan menyakiti kita lebih besar dari apapun.

Di masa yang sulit hati yang penuh dengan rasa takut akan membuat keputusan yang salah dan membuat masalah jadi lebih sulit, tapi sebuah hati yang penuh dengan iman bisa mengatasi masalah seperti hembusan angin. Dengan kata lain, alasan untuk rasa takut ada dalam hati manusia tergantung pada tindakan yang kita lakukan dalam menghadapinya.



Instagram : @tulisanbiasa_
9 Maret 2018

ILUSI


Angin sudah bertiup lagi. Kali ini terasa hangat dan menyenangkan. Matahari mulai meninggi, sinarnya ramah di balik tudung pepohonan, cabang – cabangnya meninggalkan siluet gelap di bawah langit. Beberapa bagian terliat kuat menghijau, beberapa lagi terlihat rapuh mengering. Di beberapa sisi langit awan putih mulai tersenyum pada embun – embun yang sebentar lagi menghampirinya.
Aku menarik nafas dalam – dalam. Merasakan udara sejuk yang menusuk ke paru – paru. Mataku terpejam berharap bertemu dengan matanya di dalam sana. Aku benar. Dia ada di sana. Di rumah kecil dan sederhana. Di serambi dimana dia biasa menemuiku. Jauh dari bising kota dan aku selalu menyukainya. Aku bisa mencium aroma tanah yang subur, aroma pepohonan, tanaman obat – obatan dan beberapa bunga di halaman. 
“Ku pikir kau belum pulang..” dia berdiri dan meraih bahuku. Senyum itu tajam dan menenangkan. Aku merasa aman. 
“Mungkin kau lupa bahwa hari ini aku harus membawamu ke kota”
“Aku tidak berharap kita pergi ke sana. Dan Ya.. kita harus pergi” suaraku terdengar berat berisi kekecewaan.
“Bagaimana harimu?” aku berusaha mengendalikan egoku yang berharap bahwa aku bisa menghabiskan waktu di rumah dengannya.
“Seperti biasa… aku selalu ingin pulang lebih cepat dan menemuimu. Bagaimana harimu?” dia membuka pintu kayu dan menaruh mantelnya di sofa.
“Aku menemukan beberapa buku usang di rak paling bawah. Aku membacanya. Ku rasa aku bosan berada di rumah saat kau tak ada. Jadi aku pergi keluar mencari udara segar”
“Ku pikir itu bagus”dia berdiri di rak buku tua. Satu tangannya dimasukkan ke saku celananya dan satunya lagi mengambil buku usang yang tadi ku baca. Dia mengamatinya tajam. 
"Kau sungguh telah membaca ini?" wajahnya berubah memberikanku isyarat bahwa aku tak benar-benar membacanya. 




Instagram : @tulisanbiasa_
13 Maret 2018

ILUSI

Aku terbagun. Matahari bersinar di balik jendela yang tertutup tirai. Mengirimkan cahaya keemasan pucat yang bersinar ke lantai. Aku melihat dirinya di sana. Tertidur lelah di sofa. Wajahnya terlihat teduh menenangkan. Tangannya memegang buku yang ku yakin semalam suntuk telah ia baca sampai kantuk mengalahkannya. Aku berusaha meraih segelas air untuk menghilangkan haus. Aku tak ingin membangunkannya, karena ku yakin juga semalam dia sudah terjaga. Namun ranjang tua itu tidak bisa diajak kompromi, suara kayu – kayu yang reot membangunkannya. Mata cokelatnya langsung terlihat siaga menatapku. Dan tubuhnya lalu terdorong menghampiriku. “Kau butuh sesuatu?”
“Ya. Ku rasa aku haus. Maaf membangunkanmu..” aku berusaha untuk duduk. Dia berusaha membantuku dengan menata bantal di belakang untuk bersandar. 
“Kenapa kau selalu saja keras kepala. Sudah ku katakan bangunkan aku jika kau butuh sesuatu” tangannya mengambilkan segelas air dan memberikannya kepadaku. Sesekali dia menguap dan mengusapkan tangan ke wajahnya.
 “Terimakasih..” aku memberikan gelas yang sudah ku habiskan airnya dalam beberapa kali teguk. “Merasa lebih baik?” tangannya membantuku bersandar di tempat tidur.
“Jauh lebih baik karena ada kau di sini…”
“Semoga wanita itu merawatmu dengan baik.”
“Ya dia memang harus bersikap baik karena kau telah membayarnya. Beberapa orang yang datang hari ini pun sangat baik. Hanya saja aku tidak begitu suka dengan pertanyaan – pertanyaan mereka” aku memelankan suaraku dan meletakkan tanganku di tepi tempat tidur. memainkan sprei untuk menghilangkan sedikit kegelisahan. 
“Dengar, maafkan aku karena aku pulang terlambat. Aku tidak menyangka orang – orang itu akan datang menemuimu saat aku tak ada. Ku harap itu tidak mengganggumu.” Dia menatapku lama. Tatapan itu, menyimpan banyak kekhawatiran.
 “Tenang saja. Aku bisa mengatasinya bila hanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan jika mereka menganggapku sinting sekalipun karena jawabanku, itu bukan masalah besar. Namun jika mereka memisahkanku darimu baru aku tak bisa mengatasinya. Dan mungkin aku akan benar-benar menjadi sinting karenanya”mataku berkaca-kaca dan aku memaksakan senyumku mengembang.
.
.
.
Instagram : @tulisanbiasa_
17 Maret 2017

Quotes

Dalam setiap sajak yang kulangitkan pada Tuhan
Namamu lah yang tak pernah lupa aku sebutkan
Aku meminta kepada-Nya dengan segala kerendahan hati
Bahwa aku selalu ingin bisa mendengarmu dalam kebisuan
Aku selalu ingin bisa merabamu dalam kehampaan
Dan aku selalu ingin kau menjadi nyata


Instagram : @tulisanbiasa_
8 Maret 2018

Kebohongan Terbesar


Keempat mataku menggali bayangan di balik ragamu yang terlewatkan.
Menerka, mengerutkan dahiku.
Hingga tiba aksaraku tertuju lagi padamu.
Kebohongan terbesarku adalah “Aku siap kehilanganmu”
Aku yang lebih memilih ketenangan, nyatanya buta bahwa sebenarnya ketenanganku adalah kamu
Aku terlalu naïf untuk melewati tiang-tiang sepi sendiri
Padahal puisi – puisimu selalu saja aku rindui
Aku tak berhak mengatakan bahwa rindu itu kejam
Karena bukan hak ku untuk merindukanmu sekarang
Aku terlalu angkuh untuk membiarkan malam pudar
Lalu meninggalkan sunyi yang membawa beribu mimpi pergi
Dan pada akhirnya ini hanya menyisakan nyeri
Tanpa aku sadari…
Yang kucari..
Yang kunanti..
Tetap saja satu seorang..
Dirimu yang tak pernah berhenti aku puisikan
Dan aku tidak akan pernah siap untuk kehilangan
.
.
.

Instagram : @tulisanbiasa_
8 Maret 2018


"Matilah saja kau ,Rasa"



Hati bergemuruh penuh, Suaramukah???
Dalam diam tersulam rindu sedu sedan tiada berpenghabisan
Berbalut syahdunya embun menyambut segala pengharapan
.
.
Namun apalah daya
Bila rasa rindu masih dipertanya
Betapa jauh indahnya biru cakrawala
.
.
Sore itu pelangi melengkung mewarnai mega
Pertanda cinta kasih masih ada
Namun mimpi-mimpiku pun hitam seiring datangnya malam
Gelap, segelap bola mata ku
.
.
Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari mimpi buruk
Aku terjaga... Membaca syair - syairmu, wahai pujangga
Hatiku terpikat pada setiap larik kata
.
.
Membayangkan saat hari telah tidur di pangkuan malam
Aku bisa mengirim bisikan hatiku bersama angin
Melewati malam yang pucat kedinginan
Mengabaikan bintang yang merintih dari kejauhan
.
.
Aku tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan
Bayangan... Aku hanya mampu sebatas itu
.
.
Karena sejatinya aku tak seindah apa yang kau puisikan
Meski cinta padamu tak kunjung hancur
Rinduku berisik
“Matilah saja kau ,Rasa”





Instagram : @tulisanbiasa_
23 Februari 2018

Aku


Di kursi indah sebuah taman, aku melihat seseorang menatapku. Setelah cukup lama orang itu lalu melebarkan senyumnya. Beberapa menit berlalu orang itu lantas mendekatiku. Melihat lembaran kosong yang sejak tadi hanya ku pandangi. Sorot matanya membuatku khawatir tapi aku menemukan sebuah ketenangan dibalik sikapnya yang janggal. Dia lantas membuka halaman lain dari bukuku dan berkata "Cobalah untuk tidak melihat dunia hanya dari luar, karena ada dunia lain di dalam matamu dan kau tidak menyadari hal itu. Cobalah kau tutup matamu..dan lihatlah dunia yang ada di dalam matamu itu. Baiknya kau harus mengetahui, bahwa saat kau menutup matamu, tidak ada lagi yang tersisa dari dunia yang kau ketahui. Kau akan mengerti hatimu, ia seperti atap dan rasamu seperti alam tanpa tanah lalu kau akan meminum air dari atap"
Aku hanya diam dan memperhatikan. Sama sekali tidak mengerti apa yang dia katakan (baca:bodoh). Dia kembalikan buku dan penaku. Ku lihat isinya, pun masih kosong (ku kira dia baru saja menuliskan puisi yang indah). Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan, namun dia sudah hilang.
Tarikan nafasku panjang, disertai desau angin yang menelisik disela sela pepohonan.
Mataku terpejam, merasakan tangan sang bayu menyentuh lembut wajahku. Aku berusaha melihat dunia yang ada di dalam mataku. Aku berusaha untuk mengerti hatiku. Apa yang ingin dia katakan. Semakin lama dan rasaku semakin dalam. Kini hanya ada duniaku, dunia yang kulihat dari balik pelupuk mataku.
Aku melihat diriku ada.
Aku... Bukan gadis yang sebatang kara, bukan gadis yang terlalu malang
Aku... Hanya gadis yang sering meminta Tuhan untuk mencabut nyawaku
Agar bisa menemukan damai di rumah-Nya
Aku..
Gadis yang merasa sudah mengalami kekejaman dunia (padahal dunia tak berbuat apa-apa padaku)
Di usia 6 tahun ,saat itu.. Aku telah menjalani ribuan kehidupan dalam satu hari
Aku
Gadis yang saat ini hampir menyerah..
Aku mencoba untuk tidak menceritakan kesedihanku.. kepada siapapun juga
Dan aku..
Tidak pernah ingin membaginya ..
Aku berusaha melempar semua masalahku ke sumur yang sangat dalam..
Aku melemparnya juga ke lautan dan berharap gelombang akan menelannya lalu semua masalah itu hilang..
Bodohnya lagi terkadang bersikap layaknya malaikat
Berpura - pura kuat
Aku menjawab semua orang yang menyakitiku dengan tawa..
Aku hanya menangis saat sendiri..
Aku menciptakan bayang - bayang diriku melalui ilusi dalam alam bawah sadarku
Bayang - bayang itu menjadi temanku juga menjadi benalu
Aku...
Gadis yang selalu berusaha melawan takdir
Sekarang pun aku telah menjalani kehidupanku, namun belum mampu mengubah takdirku
Aku tetap saja pada penerimaan yang menyakitkan
Aku berada di dalam istana baginda penguasa jiwa
Istana yang selalu ingin aku hancurkan
Yang menjadi tempat berteduhku dari panas dan hujan
Orang bilang itu rumahku juga
Namun entah bagaimana aku tahu hatiku tidak di sana
Aku datang dan berdiri di sini hanya untuk bhaktiku pada permaisuri
Selebihnya rasa yang menginginkan balas dendam dariku lebih menggebu
Aku adalah daging bernama
Pelayan baginda - baginda juga puterinya
Wanita tua renta yang ada di gubuk pinggir istana pun ku layani layaknya aku pada baginda
Aku dicintai..
Dan dibenci oleh musuh - musuhku..
Aku telah menyerahkan nyawaku dan mengambilnya karena usahaku dan berkat-Nya
Dulu aku pernah bangkit dari posisi terendah ke puncak dunia..
Namun kini,
Aku seperti telah berjalan melewati api
Aku telah terbakar
Tubuhku menjadi abu
Aku adalah seorang puteri dalam duniaku sendiri
Aku adalah jiwa semua wanita dalam bayanganku saja
Dan jiwaku..
Ada di dalam cinta yang tak pernah ku temui wujud sejatinya..
Aku...
Gadis yang belum mampu menemukan jawaban , dari teka - teki yang orang itu berikan.



Instagram : @tulisanbiasa_
20 Februari 2018


Aku menyukai jarak ini, karena tanpa jarak ini aku tidak akan pernah memiliki alasan untuk datang mendekatimu.
Meski ku tahu, bahwa mungkin aku hampir tak akan pernah bisa datang mendekatimu.
Aku hanya bisa menunggumu pada setiap titik dimana kita pernah bertemu.  Rasanya sulit bagiku untuk mengabaikanmu. Sejak kau datang menjadi teman baik dan juga sahabatku.  Kau balikkan semua kesedihanku menjadi kegembiraan, semua air mataku menjadi tawa. Mungkin aku tak mampu memberimu cinta seperti yang terus kau berikan padaku. Dan hanya pertanyaan yang mampu ku layangkan. Bagaimana kau bisa mencintaiku dengan sebegitu besar?
Hidup ini begitu singkat.
Sedang di sini aku hanya bisa selalu khawatir. Khawatir bila pada akhirnya kita tidak bisa bersama.  Aku khawatir kisah kita hanyalah ilusi semata.  Mungkin kau selalu berpikir bahwa kau berjuang sendirian. Namun kau salah. Dalam lemah rapuhku, aku menginginkanmu lebih dari yang kau tahu.
Kau harus tahu...
Hidup di sini sangatlah sepi dan menyakitkan. Aku selalu ingin meraih uluran tanganmu lalu kita pergi bersama meninggalkan kisah pilu yg ada. Menuju damai yang pernah aku impikan. Di sini, sembari merindukanmu setiap hari, aku merasa gelisah. Setiap langkah yang ku ambil, rasanya aku harus sangat berhati - hati, seolah segalanya menyangkut antara hidup dan mati.
Seperti halnya gambar ini...
Melihat manisnya ini, mataku tak ingin melihat apa-apa lagi. Bagai kupu-kupu, hatiku terbang ke suatu tempat yang jauh. Namun kau sperti telah menyatu dgn langit biru. Membuatku tertahan dn berdiri di sini saja lalu merasakan hadirmu ada. Seperti kegelapan yang sedang di ciumi cahaya. Tubuhku yang dipenuhi oleh jelaga terbersihkan oleh sapuan lembut tangan-tanganmu dalam khayalku.
Untuk kesekian kalinya, hatiku berbunga-bunga. Berbunga-bunga sampai ketenangan hatiku hilang. Hatiku mengatakan untuk menahanmu di sini. Namun mulutku selalu saja memintamu untuk pergi. Dan akhirnya aku hanya mampu menghitung masa, menanti hari dimana aku tak lagi merasa akan bersaing dengan waktu. Bersaing siapakah yang akan lebih dulu berhenti. Menunggu jawaban atas keresahan segala pertanyaan hidup yang membuat rasa di jiwa meredup.
Aku menyukai jarak ini, karena tanpa jarak ini aku tidak akan pernah memiliki alasan untuk datang mendekatimu.
Meski ku tahu, bahwa mungkin aku hampir tak akan pernah bisa datang mendekatimu.
Aku hanya bisa menunggumu pada setiap titik dimana kita pernah bertemu.  Rasanya sulit bagiku untuk mengabaikanmu. Sejak kau datang menjadi teman baik dan juga sahabatku.  Kau balikkan semua kesedihanku menjadi kegembiraan, semua air mataku menjadi tawa. Mungkin aku tak mampu memberimu cinta seperti yang terus kau berikan padaku. Dan hanya pertanyaan yang mampu ku layangkan. Bagaimana kau bisa mencintaiku dengan sebegitu besar?
Hidup ini begitu singkat.
Sedang di sini aku hanya bisa selalu khawatir. Khawatir bila pada akhirnya kita tidak bisa bersama.  Aku khawatir kisah kita hanyalah ilusi semata.  Mungkin kau selalu berpikir bahwa kau berjuang sendirian. Namun kau salah. Dalam lemah rapuhku, aku menginginkanmu lebih dari yang kau tahu.
Kau harus tahu...
Hidup di sini sangatlah sepi dan menyakitkan. Aku selalu ingin meraih uluran tanganmu lalu kita pergi bersama meninggalkan kisah pilu yg ada. Menuju damai yang pernah aku impikan. Di sini, sembari merindukanmu setiap hari, aku merasa gelisah. Setiap langkah yang ku ambil, rasanya aku harus sangat berhati - hati, seolah segalanya menyangkut antara hidup dan mati.
Seperti halnya gambar ini...
Melihat manisnya ini, mataku tak ingin melihat apa-apa lagi. Bagai kupu-kupu, hatiku terbang ke suatu tempat yang jauh. Namun kau sperti telah menyatu dgn langit biru. Membuatku tertahan dn berdiri di sini saja lalu merasakan hadirmu ada. Seperti kegelapan yang sedang di ciumi cahaya. Tubuhku yang dipenuhi oleh jelaga terbersihkan oleh sapuan lembut tangan-tanganmu dalam khayalku.
Untuk kesekian kalinya, hatiku berbunga-bunga. Berbunga-bunga sampai ketenangan hatiku hilang. Hatiku mengatakan untuk menahanmu di sini. Namun mulutku selalu saja memintamu untuk pergi. Dan akhirnya aku hanya mampu menghitung masa, menanti hari dimana aku tak lagi merasa akan bersaing dengan waktu. Bersaing siapakah yang akan lebih dulu berhenti. Menunggu jawaban atas keresahan segala pertanyaan hidup yang membuat rasa di jiwa meredup.



Instagram : @tulisanbiasa_
18 Februari 2018

"Nyanyikan sesuatu untukku" Kepala gadis itu bergelayut manja di bahu Ben.
 "Apa kau tahu cara yang lebih baik untuk meminta sesuatu Nona Kecil?" Ben menunduk dan tersenyum jahil.
 "Aku rasa saat ini aku tidak tahu bagaimana cara yang baik untuk meminta sesuatu, mungkin nanti kau bisa mengajariku"
 "Baiklah... Rupanya suasana hatimu memang tak secerah hari ini. Lagu apa yang kau mau?"
"Apa saja.."

Ben memainkan gitarnya dan mulai menyanyikan lagu sendu yang biasa dinyanyikannya saat sendirian. Gadis yang bersandar di bahunya mulai memejamkan mata, pandangannya menerawang jauh memasuki khayalan, dan lagi-lagi mendatangkan ilusi.
 "Apa yang kau pikirkan?" Ben menghentikan lagunya. Dia sadar bahwa dia tak bisa membiarkan gadisnya terlalu lama berkalut dengan diamnya.
"Sedikit saja tentang masa depan" mata gadis itu terbuka. Memandang hamparan air dari lautan yang luas membentang.
 "Apa itu?"
"Tentang seseorang"
"Siapa..?"
"Kau sudah tahu siapa itu"
"Sayang... Ada banyak sekali orang di muka bumi ini. Bagaimana aku bisa tahu pasti satu orang yang ada di pikiranmu saat ini"
"Hmmm...." gadis itu menjawab enggan.
"Ibumu? Ayahmu? Adikmu? Temanmu di asrama? Atau...?"
 "Dia memberi kau mengambil. Dia berada di sana saat nafas pertamamu. Kau tidak memintanya. Tapi dia akan selalu mengikutimu sampai kau mati"
Ben mengerutkan keningnya. Alisnya membentuk garis lurus wajahnya berubah menjadi serius. "Namaku....? Kau memikirkanku? Oh... Ini sungguh suatu keajaiban" Ben tertawa. Wajah gadis itu berubah cemberut.
"Sekarang katakan, apa yang kau pikirkan tentangku" Nada Ben terdengar mengejek. 
"Ben..?"
"Iya Nona manis"
"Aku mencintaimu" Bahu Ben terasa basah. Gadis itu menghujani ben dengan air mata yang tak tahu sejak kapan mulai mengalir.
Suasana berubah menjadi hening. Tangan Ben menangkup wajah gadis disampingnya. Mengangkatnya dari sandaran di bahunya. Jari Ben menyentuh pipinya dengan lembut, hati - hati, seolah yang di sentuhnya adalah sesuatu yang rapuh dan mudah pecah. Mata Ben memandangi setiap detail wajah di depannya. Menatap tajam ke dalam matanya. Meyakinkan diri bahwa gadis itu benar-benar mengatakannya. Mencoba mencari sesuatu yang gadis itu sembunyikan darinya.
"Ya Tuhan.... Aku berharap kau akan slalu mengatakannya"
.
.
.
Instagram : @tulisanbiasa_
15 Februari 2018

ILUSI



“Kembali… Di tepi kaca jendela ruang itu. Tertatap wajah yang selalu di rindu. Tetes embun telah memudar oleh belaian lembut mentari pagi yang enggan bersinar. Masihkah lembut lisan jemari menata syahdu diksi di hati. Mengirim rindu yang kembali. Memeluk hati untuk menanti. Inilah rinduku, Bulan pebruari…. Leah, ku mohon kembali…” Raut wajah Leah berubah getir. Dialihkannya pandangan dari layar HP ke kaca mobil. 
“Siapa…?” Cade disampingnya bisa merasakan perubahan atmosfer yang terjadi di bis kota.
“Lupakan….” jawab Leah enggan.
“Kau sungguh ingin pergi?”
“Iya…”
“Sampai kapan kau akan lari..?”
“Cade, kau bisa mencari tempat duduk lain jika kau mau”
“Dengar… secara tidak langsung kau menyakitinya dengan mengabaikannya. Kita sudah bersama sejak kau ada. Berapa kali kau berusaha menghindar untuk tidak jatuh cinta. Berapa kali kau pindah dari satu kota ke kota lainnya.”
“Cade diamlah.. jika kau lelah bersamaku kau bisa turun dan kembalilah ke rumah…” Wajah Leah semakin masam. Kemacetan yang semakin mengular menambah sesak suasana di dalam bis yang penuh penumpang. Siapa saja bisa dengan mudah marah kecuali mereka orang yang benar – benar mampu mengendalikan diri. Cade salah satunya.
 “Rumah mana yang kau maksud, Sayang? Sejak kapan kita memiliki rumah? Sejak kapan kita benar – benar memahami hakekat pulang. Selama ini kita hanya memahami hakekat pergi dan bersembunyi” senyum perempuan paruh baya itu tersungging pahit dengan air mata yang menggenang dan siap untuk di jatuhkan.
“Cade… aku tidak bermaksud…..”
“Tidak apa – apa sayang, aku mengerti. Sungguh…. Aku memahamimu lebih dari kau memahami dirimu sendiri. Tahukah kau saat kau lahir dengan tangisan yang begitu menyakitkan aku bersumpah pada diriku sendiri untuk selalu bersamamu kemanapun kau pergi. Kurasa aku telah memenuhi janjiku. Tapi dengar sayang, aku akan semakin tua, meskipun aku tak menginginkan itu, sebentar lagi pasti aku hanya akan merepotkanmu dengan tidur seharian di pembaringan.”
“Bibi.. kau tak boleh mengatakan itu..”
"Dan aku benci kau memanggilku Bibi.." Cade mengusap butiran air mata yang sudah keluar dari kelopak matanya. Bola matanya yang cokelat sangat serasi dengan warna rambutnya yang seperti madu. Rapi terikat kebelakang dengan balutan pita yang membuatnya tetap manis dan terlihat muda.
"Dengar Leah.. Dengarlah sayang, kau tak perlu lari dari dunia. Tinggallah , menetaplah, keluarlah, temukan rumahmu dan mulailah untuk membangun hidupmu yang baru. Tak peduli seberapa dalam dan kotoir jurang tempatmu terjatuh. Kau kini telah keluar dari sana. Berikan sedikit saja kepercayaan untuk orang lain memasuki kehidupanmu. Berikanlah mereka kesempatan untuk mengatakan seberapa berartinya dirimu untuk mereka"
"Tapi Cade, Aku.... Aku tak bisa.." Gadis itu menunduk, menangis dan menggugu.
"Kau bisa.. tapi kau tak mau. Kau tak bisa membohongiku Leah. Kau mencintainya, kau ingin bersamanya dan kau ingin tinggal di sini lebih lama. Kau membutuhkannya, disetiap langkahmu kau digenggamnya, dia di sampingmu. disetiap detak jantungmu, disetiap hembus nafasmu. Disetiap kau menghadap Tuhan, aku tahu kau mencintainya. Leah... kau selalu memimpikan sebuah penerimaan. Penerimaan masa lalumu, hidupmu dan hidup kita. Dia menerima semua yang kau bawa. Apa lagi yang akan kau syaratkan Leah..." Suara Cade melemah.
"Cade..."
"Semua ada fasenya sayang.. bahkan langitpun tak selalu biru. Matahari sesekali akan redup. Bahkan dia akan tenggelam dan memberimu gelap malamyang panjang. Begitupun kehidupan"
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Berhentilah melarikan diri, berhentilah bersembunyi dari dia, dari dunia, dan dari dirimu sendiri"
.
.
.
Instagram : @tulisanbiasa_
11 Februari 2018

Rindu Tak Bertepi


Kicau burung memecah sunyi
dalam penantian malam panjang yang sepi
Ku goreskan setumpuk asa
Dalam balutan rindu yang tak bertepi
Pagi yang cerah
Terserahkan sekuntum mawar merah yang merekah
Dalam riuh rendah rasa
Yang tak mampu terdedahkan
Dengan sekian juta kata - kata 


Instagram : @tulisanbiasa_
31 Januari 2018

ILUSI


Mungkin aku memang sudah menjadi setengah gila semenjak mengenal Ben dalam hidupku. Seharusnya akal warasku lebih utuh karena akhirnya aku berhasil menemukan jawaban dari teka teki yang sangat memuakkan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ben yang ku temui sangat berbeda. Kulit – kulit bersih pemuda kota yang pernah kutemui, pakaian yang rapi, sangat berbeda dengan wajahnya yang sering dipenuhi debu, kulitnya yang kecoklatan karena terlalu lama di bakar matahari. 
Saat bertemu dengannya aku entah menjadi siapa. Yang terpantul dari cermin di depanku adalah wanita dengan gaun indah sederhana menutupi setengah betisnya. Rambutnya yang panjang tergerai dengan pita di kepala. Tubuhnya sangat ideal, jauh sekali dengan milikku yang pendek dan melebar. Dimana – mana hanya ada kereta kuda, tak ada gedung yang meninggi seperti di kota yang kutinggali. Tak ada kereta api, semua masih terlihat asri, pepohonan rimbun disana – sini. Payung? Kenapa wanita di cermin itu lengket sekali dengan payungnya. Memutar – mutarnya di bahu saat berjalan. Oh Tuhan… setidaknya jangan pilihkan mimpiku berlatar penjajahan. Sungguh lelucon baru ketika malam – malamku selalu di datanginya, Ben. Bahkan mimpi – mimpiku di hamparan kebun teh yang luas terlihat begitu nyata. Kurasa dia pria yang teramat sangat menyebalkan, tapi kenapa jika semalam saja aku tak bertemu dengannya hatiku kecewa. Mungkinkah aku sudah mulai bergantung padanya? Bayangannya? Oh ya, aku sekarang sepenuhnya percaya bahwa AKU GILA. Tak masalah jika sekalian saja ku akui aku mencintainya, dan mengatakan bahwa dia juga mencntaiku. Ini mimpi, ini hanya ilusi.
Aku rela berjam – jam menunggu hanya untuk bertengkar dan berdebat dengannya. Beginilah cara kami mencinta. Senyumnya yang sinis kilatan matanya yang jahil, selalu menganggapku gadis manja yang tak bisa apa – apa.
“Sudah cukup bicaramu, Nona?”
“Setidaknya sampai telingamu sakit, Tuan!”
 “Kau sedang di duniaku, ingat itu?”
“Jangan bangga dulu, kau juga tidak sedang di duniamu sendiri”
“Jangan gila, bicaramu sama sekali tidak masuk akal nona manis!”
“Berhenti menatapku seolah aku propertimu, dan berhenti menyebutku begitu. Aku sama sekali tidak tertarik”
"Kau pikir aku tertarik padamu? Hanya lelaki bodoh di kota ini yang akan tertarik padamu, Sayang"
"Ku rasa kau juga akan segera menjadi bodoh jika kau tidak belajar bangun menghentikan mimpi dan... omong kosong kita ini"
"Omong kosong? Bukankah itu kau nona, yang pandai bicara tanpa jelas apa maksudnya. Dan ingat, tidak ada satu pun dari bicaramu yang bisa ku mengerti"
"Oh ya? setidaknya aku senang Tuan Ben, akhirnya ada orang di kota ini yang mengatakan bahwa aku pandai bicara"
"Bicara omong kosong maksudmu, Sayang?"
"Ku pikir tidak terlalu buruk. Setidaknya aku puas mengungkapkan pendapatku"
"Padaku..? Tidak kah kau punya pilihan lain untuk mendengarkan ocehanmu?"
"Kurasa hanya telingamu di kota ini yang terlalu banyak kotorannya dan tersumbat karenanya, jadi kau bisa berlama - lama denganku, mendengar ocehanku"
"Ya.. dan hanya aku , orang di kota ini yang mampu membuatmu tidak bisa bicara apa -apa lagi"
"Kita lihat saja nanti"


Instagram : @tulisanbiasa_
30 Januari 2018

Kahlil Gibran "Duka yang Bisu"


Setiap kali aku pergi ke perladangan, aku kembali dengan kekecewaan tanpa sedikit pun memahami penyebab kekecewaan itu. Setiap kali menengadah ke langit yang kelabu, aku merasakan hatiku mengkerut. Setiap kali aku mendengar nyanyian burung - burung dan perbincangan musim semi, aku menderita tanpa mengerti alasan penderitaanku. Konon, kesahajaan membuat seseorang berada dalam kekosongan. Dan kekosongan membuatnya riang dan tiada terpikir sedikit pun. Yang demikian barangkali benar bagi mereka yang terlahir sebagai mayat dan hidup sebagai seonggok jasad kaku di atas permukaan tanah. Tapi bagi seorang anak yang peka serta tahu sedikit saja tentang sesuatu, dialah makhluk paling sial di bawah matahari, sebab dia dicabik - cabik oleh dua kekuatan. Kekuatan pertama mengangkatnya dan mempertontonkan indahnya semesta dari balik halimun mimpi-mimpi. Yang kedua memaksanya turun ke bumi dan memenuhi penglihatannya dengan debu dan menyekapnya dengan segala kekhawatiran dan kekelamunan.
Kesunyian memiliki tangan - tangan yang lembut, namun dengan jari - jarinya yang kuat, ia merenggut hati dan membuatnya nestapa dengan dukacita. Kesunyian adalah lorong menuju penderitaan sekaligus teman keagungan spiritual.
Jiwa seorang anak yang tak henti dilanda derita adalah seumpama teratai putih yang sedang terapung. Menggigil diterpa semilir angin dan membuka hatinya untuk sang fajar. Lalu melipat daunnya kembali tatkala bayang - bayang malam mulai datang. Manakala anak tersebut tidak punya hiburan atau kawan dalam permainan, hidupnya akan menjadi penjara yang sempit, di mana dia tidak mampu melihat apa pun kecuali jaring laba - laba. Tidak mendengar sesuatu apa pun kecuali suara serangga.
Penderitaan yang menghantuiku selama masa muda bukanlah disebabkan oleh kurangnya hiburan dan permainan. Karena pada kenyataannya aku punya itu semua. Bukan pula teman yang tiada terbilang. Kedukaan itu lebih dikarenakan oleh penyakit batin yang membuatku mencintai kesederhanaan. Ia juga mematikan kecenderunganku pada permainan dan hiburan. Ia pulalah yang mematahkan kemudaanku dari bahuku dan membuatku seperti air di antara gunung-gunung yang tenang dan memantulkan bayangan hantu-hantu dan warna - warni awan serta pepohonan. Tetapi tidak menemukan sebuah jalan keluar di mana sungai mengalir sambil berdendang ke arah laut.

📝Kahlil Gibran "Duka yang Bisu"
📑 Sayap-sayap Patah


Ini Oktober kesekian kalinya kita tidak bersama. Namun segala kenangan tentang kita masih abadi melekat dan enggan mati. Lembayung Bali masih lah lagu yang aku sukai. Dan anak – anak masihlah harta yang paling aku cintai. Memutar waktu ke masa lalu. Bagaimana kau dengan girang mengatakan padaku dari seberang bahwa anak – anak didikmu menjuarai kompetisi tingkat nasional Bagaimana akhirnya kau bangun sanggar – sanggar indah berdampingan. Kau sisakan satu lahan dengan bunga – bunga di sekitar. Kau bilang itu untukku.

 “Kau bisa mengajak anak – anak menari di sana sepulang kau bekerja”. Katamu menunjuk satu sanggar setengah jadi persis di sebelah sanggarmu yang kau impikan dulu. 

Sejak itu aku mulai menata hati dan mimpi untuk tinggal di kotamu. Aku tak peduli berapa kali aku mengadu padamu tentang kesedihanku. Menghakimi diriku bahwa aku tak pernah merasa bahagia hidup di dunia. Beberapa kali itu juga kau tak pernah bosan mendengar ocehanku yang panjang lebar dengan sabar. Meski di depanmu tertumpuk banyak sekali kertas – kertas hingga menggunung, juga kalender berlingkar merah yang menandakan pekerjaanmu harus segera rampung. Dengan senyum kau julurkan tangan memberiku buku karya Erbe Sentanu. 

“Buka halaman 24 – 25. Baca dan pahamilah isinya” aku menuruti ucapanmu tanpa bertanya.

Di buku itu jelas tertulis bahwa, “Kalau kita ingin melihat seperti apa sebetulnya kondisi fitrah manusia, kita bisa mengamati kehidupan anak balita. Anak – anak seusia itu akan selalu merasakan bahagia, senang, tanpa beban, dan total dalam mengerjakan sesuatu. Saat bermain ia akan total bermain, saat menangis ia akan seratus persen menangis, dan saat tertawa ia akan tertawa dengan lepas. Ia, anak – anak, selalu berada di present moment, selalu terfokus pada apa yang sedang ia alami –saat ini.  Sri Sri Ravi Shankar, seorang spiritualis terkenal dunia , salah seorang nominator pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya adalah anak – anak. Oleh karena itu, ia selalu menyungging senyum setiap waktu. Ia merasa dirinya senantiasa di liputi kebahagiaan.  Inilah yang seharusnya manusia pertahankan dalam hidupnya sehingga ia tetap pada fitrahnya”

"Kau tahu? wajahku selalu berbeda saat mengajar di TK, SD, SMP, SMA. Paling seneng di TK. Coba kau perhatikan mereka, anak - anak TK. Mereka belum terkontaminasi hal - hal negatif yang membuat mereka jadi lebih buruk. contoh, saat orang tuanya bertengkar, si anak gak peduli dengan pertengkaran itu. mereka tetep asik bermain. padahal orang tua mereka lagi marahan." katamu sambil mengambil satu persatu kertas yang berisi list tugas. 

Aku tidak pernah menyangka itu adalah senja terakhir kita bersama. Tuhan ternyata memiliki rencana sendiri. Satu tahun setelah kau hadiahkan buku itu padaku, DIA memintaku untuk berjuang sendiri mencari bahagia tanpa adanya kamu membersamaiku. Kau telah nyaman dalam dekap-Nya. Sedang aku tertahan di sini, dalam gegap gempitanya dunia. Perlu bertahun - tahun aku mempercayai apa yang telah terjadi. Hingga setiap hujan datang dia tak lelah menyadarkanku bahwa semua tinggallah kenang. Dan sekarang biarlah kenangan itu hidup abadi. 

Lihatlah, 1 bulan ini dalam 3 kali pertemuan aku mendapatkan kesempatan untuk bermain bersama mereka, anak - anak lucu dan lugu yang kau sebut malaikat dunia selain ibu. Bersama merekalah kurasakan hadirmu ada. Tolong jangan tertawakan bagaimana kelihatannya saat aku sedang belajar. aku memang belum bisa sepertimu. Dan mungkin tak akan pernah bisa. 


Instagram : @tulisanbiasa_
29 Oktober 2017

Aku wanita yang biasa - biasa saja.
Yang bahkan tak nampak meski hadirku sudah di pelupuk mata.
Hadirku tak akan pernah terasa olehmu meski aku sudah berdiri lama.
Karena ternyata berdiriku sebagai bayangan hanyalah kebodohanku karena harapan.
Sempat ku putuskan untuk lari.
Berhenti dari ilusi tentangmu yang sering menghantui.
Namun takdir membawamu kembali .
Kau bilang semua ini masih bisa di perbaiki.
Kuberikan kau kesempatan.
Bersama ranumnya kuntum bunga yang mulai mekar.
Berharap semua ini tak hanya sekedar.
Namun ternyata sama saja.
Bila hanya aku yang berjuang, itu bukanlah cinta yang wajar.
Sekarang, untuk apa ku tangisi.
Cinta yang tak lagi memilih kembali.
Cinta yang memilih membakar dirinya habis di jalan pulang.
Jadilah begitu. Kau tetap menjadi api sedang aku menjadi abu.
Tetaplah saja pada dirimu kini.
Yang bersikap seolah tak peduli.
Hatimu layaknya ranting yang bercabang.
Sedang aku hanya sebuah batang rapuh yang berusaha untuk terus menopang.
Aku tak berdoa pada semesta untuk mengutukmu.
Aku pun tak memungkiri bisa sepenuhnya lupa kepadamu.
Aku hanya berdoa supaya kau tak kembali.
Tak membuka lagi cerita yang sudah ku akhiri.
Kau pernah tau rasanya ditinggalkan. Aku pun mengerti rasanya di khianati. Aku dan kamu sama - sama berencana untuk berjuang. Menjadikan luka lama sebagai cinta. Agar dunia mengabadikan bahagia dalam kita.
Namun tak apa. Kelak kau akan mengerti rasanya. Ketika bahagia tak sudi mengetuk dada. Ketika sepi membuatmu enggan mati tapi tak kuasa untuk bunuh diri.

Sudah, tak akan lagi ku perpanjang. Sederhana saja, ini hanya tentang siapa yang memilih bertahan bersamamu. Dan ternyata itu bukan lagi aku. Cukup ku sudahi basa - basi kisah kita ini. Semoga lekas kau sadari, kau bukanlah orang yang sempurna. Aku pun bukanlah orang yang lengkap adanya. Semakin kau mengejar yang sempurna di mata. Semakin kau akan kehilangan yang tulus di hati.


Instagram : @tulisanbiasa_
3 Oktober 2017


Wahai kamu yang sedang bertualang?
Kapan kau akan pulang?
Kapan puisimu menjadi sebuah keajaiban?
Menyapaku yang selalu menunggu kepulanganmu
Bukan hanya rangkaian sajak rindu
Yang membuatku membisu dalam lingkaran cintamu
Sekarat tapi tak mati, mencintai tapi tak memiliki.
Mengadu pada senja tapi dia diam saja.
Pagi tak pernah membawakanku kabar bahagia tentangmu
Malam tetap saja membiarkanku resah menungguimu

Kejamnya lagi dunia memberi kabar yang tak layak ku dengar ,tentangmu.
Benarkah itu?
Siapa dia?
Wanita yang di sampingmu dalam bingkai bahagia? "Rekan kerjaku" kau pasti akan menjawab begitu.
Namun semua ada batasnya, sayang.
Bersandar di bahumu cukup membuat hilang separuh warasku.

Wahai kamu yang sedang bertualang dan memuja - muja rindu.
Akankah kelak akan  kembali pulang kepadaku?
Sedang dunia menyuguhimu banyak rumah baru. Yang lebih nyaman untuk kau tinggali dan melupakan janji - janji.



Instagram : @tulisanbiasa_
2 Oktober 2017

Geliat


Geliat

Pagi melamar ku dikamar
Diluar geliat kehidupan telah dimulai
Aku masih setengah sadar

Mata ini
Masih tertarik memandangi layar
Mencari jawaban
Apakah pagi ini rindu sudi tuk mengaku
Kalau dia lebih rindu
Maukah cinta mengalah, kemudian menyerah tanpa syarat?

Hanya kau yang bisa menjawabnya
Dan jawablah segera

Meski hanya secampang
Jika kau mau pagi ini kita berlabuh
biarkan rindu kita bersandar, berteduh
Pada kokohnya batang kasih
Dan rindangnya sayang

Bogor, 28/9/17 05.45

puisi karya Bang Eky @Sajakdalamdoa


Jujur saja aku ragu.
Bahwa hadirmu bukanlah sebagai penyembuh.
Melainkan sebagai pembunuh.
Sungguh tak ada maksudku untuk tidak menaruh hati padamu.
Hanya saja aku tak kuasa.
Menerima cinta dengan sebegitu mudahnya.

Percayalah ini hanya soal waktu.
Aku hanyalah seorang wanita yang pernah gagal menjalin cinta.
Aku hanyalah seorang gadis yang tumbuh dalam setiap cerita cinta yang berakhir tragis.

Aku tak mau bernasib sama.
Jatuh ke dalam luka untuk kesekian kalinya. Terjerat pilu pengkhianatan yang tak menyisakan setitik harapan.
Atau menua seperti wanita di sudut kota sana.
 Wanita yang disisa hidupnya digerogoti penyesalan. Kemudian mati perlahan tanpa sedikitpun cinta menemani pemakamannya. Hanya isak tangis memilukan dari anak - anak malang yang ditinggalkan. Kemana perginya sang pujaan hati?  Pergi.  Mencari sosok yang lebih indah di matanya. Baik rupa maupun harta. Tanpa berfikir dua kali siapa yang nyatanya setia. Tanpa meminta hati untuk merasakan tulusnya cinta seorang perempuan, yang selama ini berdiri tegar dalam masa - masa terburuknya.

Namun waktu selalu punya cara sendiri untuk memutar kisah yang pilu. Setelah dikhianati. Laki- laki itu kembali. Berharap mendapat naungan cinta yang sejati. Tapi apa mau dikata. Semua tak akan kembali sama. Cinta sejatinya telah meminta bumi menelannya. Dan kebencian sudah tertanam kuat di hati anak - anak malang yang dulu tak mau pulang dari pemakaman.
Sederhana memang.
Namun sungguh, aku tak mau begitu.



Instagram : @tulisanbiasa_
27 September 2017

Benar kata orang,
Terkadang perasaan di uji oleh hal-hal yang tak pernah terbayangkan. Sesuatu yang membuat kita lemah dan seolah tidak kuat untuk saling mempertahankan. Misalnya hal - hal kecil seperti pengabaian. Pengabaian sesekali itu lumrah. Kalau berkali - kali? Dan setelah itu pun terkadang kita masih memilih bertahan.

Ini, kita yang terlalu bodoh?
Atau memang kita yang terlalu cinta?
Berikanlah sedikit jeda.
Jangan hanya sibuk terlena cinta.
Menyerukan perjuangan untuk memiliki hatinya.
Menilai segala hal yang sebenarnya tidak perlu.
Ujung dari ketidakberdayaan itu adalah cemburu.
Parahnya lagi kalau cemburu buta.
Terkadang hati sering kali tidak menyadari.
Sering kali tidak peduli.
Seberapa sering dia tersakiti.

Karena itu, kita juga butuh ruang sendiri.
Membiarkan hati melepas beban karena bertahan dalam kepedihan.
Menyadarkan hati bahwa dia juga berharga.  Bahwa dia juga pantas untuk di perjuangkan.
Biarkan jarak ini ada.
Biarkan berhenti meski dalam waktu yang lama.
Semoga setelah jeda, kita mampu berjalan lagi dengan cinta. 
Cinta yang sewajarnya.