Jumat, 16 Maret 2018

ILUSI

Aku terbagun. Matahari bersinar di balik jendela yang tertutup tirai. Mengirimkan cahaya keemasan pucat yang bersinar ke lantai. Aku melihat dirinya di sana. Tertidur lelah di sofa. Wajahnya terlihat teduh menenangkan. Tangannya memegang buku yang ku yakin semalam suntuk telah ia baca sampai kantuk mengalahkannya. Aku berusaha meraih segelas air untuk menghilangkan haus. Aku tak ingin membangunkannya, karena ku yakin juga semalam dia sudah terjaga. Namun ranjang tua itu tidak bisa diajak kompromi, suara kayu – kayu yang reot membangunkannya. Mata cokelatnya langsung terlihat siaga menatapku. Dan tubuhnya lalu terdorong menghampiriku. “Kau butuh sesuatu?”
“Ya. Ku rasa aku haus. Maaf membangunkanmu..” aku berusaha untuk duduk. Dia berusaha membantuku dengan menata bantal di belakang untuk bersandar. 
“Kenapa kau selalu saja keras kepala. Sudah ku katakan bangunkan aku jika kau butuh sesuatu” tangannya mengambilkan segelas air dan memberikannya kepadaku. Sesekali dia menguap dan mengusapkan tangan ke wajahnya.
 “Terimakasih..” aku memberikan gelas yang sudah ku habiskan airnya dalam beberapa kali teguk. “Merasa lebih baik?” tangannya membantuku bersandar di tempat tidur.
“Jauh lebih baik karena ada kau di sini…”
“Semoga wanita itu merawatmu dengan baik.”
“Ya dia memang harus bersikap baik karena kau telah membayarnya. Beberapa orang yang datang hari ini pun sangat baik. Hanya saja aku tidak begitu suka dengan pertanyaan – pertanyaan mereka” aku memelankan suaraku dan meletakkan tanganku di tepi tempat tidur. memainkan sprei untuk menghilangkan sedikit kegelisahan. 
“Dengar, maafkan aku karena aku pulang terlambat. Aku tidak menyangka orang – orang itu akan datang menemuimu saat aku tak ada. Ku harap itu tidak mengganggumu.” Dia menatapku lama. Tatapan itu, menyimpan banyak kekhawatiran.
 “Tenang saja. Aku bisa mengatasinya bila hanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan jika mereka menganggapku sinting sekalipun karena jawabanku, itu bukan masalah besar. Namun jika mereka memisahkanku darimu baru aku tak bisa mengatasinya. Dan mungkin aku akan benar-benar menjadi sinting karenanya”mataku berkaca-kaca dan aku memaksakan senyumku mengembang.
.
.
.
Instagram : @tulisanbiasa_
17 Maret 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar