Aku terbagun. Matahari bersinar di balik jendela yang
tertutup tirai. Mengirimkan cahaya keemasan pucat yang bersinar ke lantai. Aku
melihat dirinya di sana. Tertidur lelah di sofa. Wajahnya terlihat teduh
menenangkan. Tangannya memegang buku yang ku yakin semalam suntuk telah ia baca
sampai kantuk mengalahkannya. Aku berusaha meraih segelas air untuk
menghilangkan haus. Aku tak ingin membangunkannya, karena ku yakin juga semalam
dia sudah terjaga. Namun ranjang tua itu tidak bisa diajak kompromi, suara kayu
– kayu yang reot membangunkannya. Mata cokelatnya langsung terlihat siaga
menatapku. Dan tubuhnya lalu terdorong menghampiriku. “Kau butuh sesuatu?”
“Ya. Ku rasa aku haus. Maaf membangunkanmu..” aku berusaha
untuk duduk. Dia berusaha membantuku dengan menata bantal di belakang untuk
bersandar.
“Kenapa kau selalu saja keras kepala. Sudah ku katakan bangunkan aku
jika kau butuh sesuatu” tangannya mengambilkan segelas air dan memberikannya
kepadaku. Sesekali dia menguap dan mengusapkan tangan ke wajahnya.
“Terimakasih..” aku memberikan gelas yang sudah ku habiskan airnya dalam
beberapa kali teguk. “Merasa lebih baik?” tangannya membantuku bersandar di
tempat tidur.
“Jauh lebih baik karena ada kau di sini…”
“Semoga wanita itu merawatmu dengan baik.”
“Ya dia memang harus bersikap baik karena kau telah
membayarnya. Beberapa orang yang datang hari ini pun sangat baik. Hanya saja
aku tidak begitu suka dengan pertanyaan – pertanyaan mereka” aku memelankan
suaraku dan meletakkan tanganku di tepi tempat tidur. memainkan sprei untuk
menghilangkan sedikit kegelisahan.
“Dengar, maafkan aku karena aku pulang
terlambat. Aku tidak menyangka orang – orang itu akan datang menemuimu saat aku
tak ada. Ku harap itu tidak mengganggumu.” Dia menatapku lama. Tatapan itu,
menyimpan banyak kekhawatiran.
“Tenang saja. Aku bisa mengatasinya bila hanya
pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan jika mereka menganggapku sinting
sekalipun karena jawabanku, itu bukan masalah besar. Namun jika mereka
memisahkanku darimu baru aku tak bisa mengatasinya. Dan mungkin aku akan
benar-benar menjadi sinting karenanya”mataku berkaca-kaca dan aku memaksakan
senyumku mengembang.
.
.
.Instagram : @tulisanbiasa_
17 Maret 2017

Tidak ada komentar:
Posting Komentar