Jumat, 16 Maret 2018

Kahlil Gibran "Duka yang Bisu"


Setiap kali aku pergi ke perladangan, aku kembali dengan kekecewaan tanpa sedikit pun memahami penyebab kekecewaan itu. Setiap kali menengadah ke langit yang kelabu, aku merasakan hatiku mengkerut. Setiap kali aku mendengar nyanyian burung - burung dan perbincangan musim semi, aku menderita tanpa mengerti alasan penderitaanku. Konon, kesahajaan membuat seseorang berada dalam kekosongan. Dan kekosongan membuatnya riang dan tiada terpikir sedikit pun. Yang demikian barangkali benar bagi mereka yang terlahir sebagai mayat dan hidup sebagai seonggok jasad kaku di atas permukaan tanah. Tapi bagi seorang anak yang peka serta tahu sedikit saja tentang sesuatu, dialah makhluk paling sial di bawah matahari, sebab dia dicabik - cabik oleh dua kekuatan. Kekuatan pertama mengangkatnya dan mempertontonkan indahnya semesta dari balik halimun mimpi-mimpi. Yang kedua memaksanya turun ke bumi dan memenuhi penglihatannya dengan debu dan menyekapnya dengan segala kekhawatiran dan kekelamunan.
Kesunyian memiliki tangan - tangan yang lembut, namun dengan jari - jarinya yang kuat, ia merenggut hati dan membuatnya nestapa dengan dukacita. Kesunyian adalah lorong menuju penderitaan sekaligus teman keagungan spiritual.
Jiwa seorang anak yang tak henti dilanda derita adalah seumpama teratai putih yang sedang terapung. Menggigil diterpa semilir angin dan membuka hatinya untuk sang fajar. Lalu melipat daunnya kembali tatkala bayang - bayang malam mulai datang. Manakala anak tersebut tidak punya hiburan atau kawan dalam permainan, hidupnya akan menjadi penjara yang sempit, di mana dia tidak mampu melihat apa pun kecuali jaring laba - laba. Tidak mendengar sesuatu apa pun kecuali suara serangga.
Penderitaan yang menghantuiku selama masa muda bukanlah disebabkan oleh kurangnya hiburan dan permainan. Karena pada kenyataannya aku punya itu semua. Bukan pula teman yang tiada terbilang. Kedukaan itu lebih dikarenakan oleh penyakit batin yang membuatku mencintai kesederhanaan. Ia juga mematikan kecenderunganku pada permainan dan hiburan. Ia pulalah yang mematahkan kemudaanku dari bahuku dan membuatku seperti air di antara gunung-gunung yang tenang dan memantulkan bayangan hantu-hantu dan warna - warni awan serta pepohonan. Tetapi tidak menemukan sebuah jalan keluar di mana sungai mengalir sambil berdendang ke arah laut.

📝Kahlil Gibran "Duka yang Bisu"
📑 Sayap-sayap Patah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar