Setiap kali aku pergi ke perladangan, aku kembali dengan
kekecewaan tanpa sedikit pun memahami penyebab kekecewaan itu. Setiap kali
menengadah ke langit yang kelabu, aku merasakan hatiku mengkerut. Setiap kali
aku mendengar nyanyian burung - burung dan perbincangan musim semi, aku
menderita tanpa mengerti alasan penderitaanku. Konon, kesahajaan membuat
seseorang berada dalam kekosongan. Dan kekosongan membuatnya riang dan tiada
terpikir sedikit pun. Yang demikian barangkali benar bagi mereka yang terlahir
sebagai mayat dan hidup sebagai seonggok jasad kaku di atas permukaan tanah.
Tapi bagi seorang anak yang peka serta tahu sedikit saja tentang sesuatu,
dialah makhluk paling sial di bawah matahari, sebab dia dicabik - cabik oleh
dua kekuatan. Kekuatan pertama mengangkatnya dan mempertontonkan indahnya
semesta dari balik halimun mimpi-mimpi. Yang kedua memaksanya turun ke bumi dan
memenuhi penglihatannya dengan debu dan menyekapnya dengan segala kekhawatiran
dan kekelamunan.
Kesunyian memiliki tangan - tangan yang lembut, namun dengan
jari - jarinya yang kuat, ia merenggut hati dan membuatnya nestapa dengan
dukacita. Kesunyian adalah lorong menuju penderitaan sekaligus teman keagungan
spiritual.
Jiwa seorang anak yang tak henti dilanda derita adalah
seumpama teratai putih yang sedang terapung. Menggigil diterpa semilir angin
dan membuka hatinya untuk sang fajar. Lalu melipat daunnya kembali tatkala
bayang - bayang malam mulai datang. Manakala anak tersebut tidak punya hiburan
atau kawan dalam permainan, hidupnya akan menjadi penjara yang sempit, di mana
dia tidak mampu melihat apa pun kecuali jaring laba - laba. Tidak mendengar
sesuatu apa pun kecuali suara serangga.
Penderitaan yang menghantuiku selama masa muda bukanlah
disebabkan oleh kurangnya hiburan dan permainan. Karena pada kenyataannya aku
punya itu semua. Bukan pula teman yang tiada terbilang. Kedukaan itu lebih
dikarenakan oleh penyakit batin yang membuatku mencintai kesederhanaan. Ia juga
mematikan kecenderunganku pada permainan dan hiburan. Ia pulalah yang
mematahkan kemudaanku dari bahuku dan membuatku seperti air di antara
gunung-gunung yang tenang dan memantulkan bayangan hantu-hantu dan warna -
warni awan serta pepohonan. Tetapi tidak menemukan sebuah jalan keluar di mana
sungai mengalir sambil berdendang ke arah laut.
📝Kahlil Gibran "Duka yang Bisu"
📑 Sayap-sayap Patah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar