Di kursi indah sebuah taman, aku melihat seseorang
menatapku. Setelah cukup lama orang itu lalu melebarkan senyumnya. Beberapa
menit berlalu orang itu lantas mendekatiku. Melihat lembaran kosong yang sejak
tadi hanya ku pandangi. Sorot matanya membuatku khawatir tapi aku menemukan
sebuah ketenangan dibalik sikapnya yang janggal. Dia lantas membuka halaman
lain dari bukuku dan berkata "Cobalah untuk tidak melihat dunia hanya dari
luar, karena ada dunia lain di dalam matamu dan kau tidak menyadari hal itu. Cobalah
kau tutup matamu..dan lihatlah dunia yang ada di dalam matamu itu. Baiknya kau
harus mengetahui, bahwa saat kau menutup matamu, tidak ada lagi yang tersisa
dari dunia yang kau ketahui. Kau akan mengerti hatimu, ia seperti atap dan
rasamu seperti alam tanpa tanah lalu kau akan meminum air dari atap"
Aku hanya diam dan memperhatikan. Sama sekali tidak mengerti
apa yang dia katakan (baca:bodoh). Dia kembalikan buku dan penaku. Ku lihat
isinya, pun masih kosong (ku kira dia baru saja menuliskan puisi yang indah).
Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan, namun dia sudah hilang.
Tarikan nafasku panjang, disertai desau angin yang menelisik
disela sela pepohonan.
Mataku terpejam, merasakan tangan sang bayu menyentuh lembut
wajahku. Aku berusaha melihat dunia yang ada di dalam mataku. Aku berusaha
untuk mengerti hatiku. Apa yang ingin dia katakan. Semakin lama dan rasaku
semakin dalam. Kini hanya ada duniaku, dunia yang kulihat dari balik pelupuk
mataku.
Aku melihat diriku ada.
Aku... Bukan gadis yang sebatang kara, bukan gadis yang
terlalu malang
Aku... Hanya gadis yang sering meminta Tuhan untuk mencabut
nyawaku
Agar bisa menemukan damai di rumah-Nya
Aku..
Gadis yang merasa sudah mengalami kekejaman dunia (padahal
dunia tak berbuat apa-apa padaku)
Di usia 6 tahun ,saat itu.. Aku telah menjalani ribuan
kehidupan dalam satu hari
Aku
Gadis yang saat ini hampir menyerah..
Aku mencoba untuk tidak menceritakan kesedihanku.. kepada
siapapun juga
Dan aku..
Tidak pernah ingin membaginya ..
Aku berusaha melempar semua masalahku ke sumur yang sangat
dalam..
Aku melemparnya juga ke lautan dan berharap gelombang akan
menelannya lalu semua masalah itu hilang..
Bodohnya lagi terkadang bersikap layaknya malaikatBerpura - pura kuat
Aku menjawab semua orang yang menyakitiku dengan tawa..
Aku hanya menangis saat sendiri..
Aku menciptakan bayang - bayang diriku melalui ilusi dalam alam bawah sadarku
Bayang - bayang itu menjadi temanku juga menjadi benalu
Aku...
Gadis yang selalu berusaha melawan takdir
Sekarang pun aku telah menjalani kehidupanku, namun belum mampu mengubah takdirku
Aku tetap saja pada penerimaan yang menyakitkan
Aku berada di dalam istana baginda penguasa jiwa
Istana yang selalu ingin aku hancurkan
Yang menjadi tempat berteduhku dari panas dan hujan
Orang bilang itu rumahku juga
Namun entah bagaimana aku tahu hatiku tidak di sana
Aku datang dan berdiri di sini hanya untuk bhaktiku pada permaisuri
Selebihnya rasa yang menginginkan balas dendam dariku lebih menggebu
Aku adalah daging bernama
Pelayan baginda - baginda juga puterinya
Wanita tua renta yang ada di gubuk pinggir istana pun ku layani layaknya aku pada baginda
Aku dicintai..
Dan dibenci oleh musuh - musuhku..
Aku telah menyerahkan nyawaku dan mengambilnya karena usahaku dan berkat-Nya
Dulu aku pernah bangkit dari posisi terendah ke puncak dunia..
Namun kini,
Aku seperti telah berjalan melewati api
Aku telah terbakar
Tubuhku menjadi abu
Aku adalah seorang puteri dalam duniaku sendiri
Aku adalah jiwa semua wanita dalam bayanganku saja
Dan jiwaku..
Ada di dalam cinta yang tak pernah ku temui wujud sejatinya..
Aku...
Gadis yang belum mampu menemukan jawaban , dari teka - teki yang orang itu berikan.
Instagram : @tulisanbiasa_
20 Februari 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar