Jumat, 16 Maret 2018


Jujur saja aku ragu.
Bahwa hadirmu bukanlah sebagai penyembuh.
Melainkan sebagai pembunuh.
Sungguh tak ada maksudku untuk tidak menaruh hati padamu.
Hanya saja aku tak kuasa.
Menerima cinta dengan sebegitu mudahnya.

Percayalah ini hanya soal waktu.
Aku hanyalah seorang wanita yang pernah gagal menjalin cinta.
Aku hanyalah seorang gadis yang tumbuh dalam setiap cerita cinta yang berakhir tragis.

Aku tak mau bernasib sama.
Jatuh ke dalam luka untuk kesekian kalinya. Terjerat pilu pengkhianatan yang tak menyisakan setitik harapan.
Atau menua seperti wanita di sudut kota sana.
 Wanita yang disisa hidupnya digerogoti penyesalan. Kemudian mati perlahan tanpa sedikitpun cinta menemani pemakamannya. Hanya isak tangis memilukan dari anak - anak malang yang ditinggalkan. Kemana perginya sang pujaan hati?  Pergi.  Mencari sosok yang lebih indah di matanya. Baik rupa maupun harta. Tanpa berfikir dua kali siapa yang nyatanya setia. Tanpa meminta hati untuk merasakan tulusnya cinta seorang perempuan, yang selama ini berdiri tegar dalam masa - masa terburuknya.

Namun waktu selalu punya cara sendiri untuk memutar kisah yang pilu. Setelah dikhianati. Laki- laki itu kembali. Berharap mendapat naungan cinta yang sejati. Tapi apa mau dikata. Semua tak akan kembali sama. Cinta sejatinya telah meminta bumi menelannya. Dan kebencian sudah tertanam kuat di hati anak - anak malang yang dulu tak mau pulang dari pemakaman.
Sederhana memang.
Namun sungguh, aku tak mau begitu.



Instagram : @tulisanbiasa_
27 September 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar