Jumat, 16 Maret 2018

ILUSI


Angin sudah bertiup lagi. Kali ini terasa hangat dan menyenangkan. Matahari mulai meninggi, sinarnya ramah di balik tudung pepohonan, cabang – cabangnya meninggalkan siluet gelap di bawah langit. Beberapa bagian terliat kuat menghijau, beberapa lagi terlihat rapuh mengering. Di beberapa sisi langit awan putih mulai tersenyum pada embun – embun yang sebentar lagi menghampirinya.
Aku menarik nafas dalam – dalam. Merasakan udara sejuk yang menusuk ke paru – paru. Mataku terpejam berharap bertemu dengan matanya di dalam sana. Aku benar. Dia ada di sana. Di rumah kecil dan sederhana. Di serambi dimana dia biasa menemuiku. Jauh dari bising kota dan aku selalu menyukainya. Aku bisa mencium aroma tanah yang subur, aroma pepohonan, tanaman obat – obatan dan beberapa bunga di halaman. 
“Ku pikir kau belum pulang..” dia berdiri dan meraih bahuku. Senyum itu tajam dan menenangkan. Aku merasa aman. 
“Mungkin kau lupa bahwa hari ini aku harus membawamu ke kota”
“Aku tidak berharap kita pergi ke sana. Dan Ya.. kita harus pergi” suaraku terdengar berat berisi kekecewaan.
“Bagaimana harimu?” aku berusaha mengendalikan egoku yang berharap bahwa aku bisa menghabiskan waktu di rumah dengannya.
“Seperti biasa… aku selalu ingin pulang lebih cepat dan menemuimu. Bagaimana harimu?” dia membuka pintu kayu dan menaruh mantelnya di sofa.
“Aku menemukan beberapa buku usang di rak paling bawah. Aku membacanya. Ku rasa aku bosan berada di rumah saat kau tak ada. Jadi aku pergi keluar mencari udara segar”
“Ku pikir itu bagus”dia berdiri di rak buku tua. Satu tangannya dimasukkan ke saku celananya dan satunya lagi mengambil buku usang yang tadi ku baca. Dia mengamatinya tajam. 
"Kau sungguh telah membaca ini?" wajahnya berubah memberikanku isyarat bahwa aku tak benar-benar membacanya. 




Instagram : @tulisanbiasa_
13 Maret 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar