Angin sudah bertiup lagi. Kali ini terasa hangat dan
menyenangkan. Matahari mulai meninggi, sinarnya ramah di balik tudung
pepohonan, cabang – cabangnya meninggalkan siluet gelap di bawah langit.
Beberapa bagian terliat kuat menghijau, beberapa lagi terlihat rapuh mengering.
Di beberapa sisi langit awan putih mulai tersenyum pada embun – embun yang
sebentar lagi menghampirinya.
Aku menarik nafas dalam – dalam. Merasakan udara sejuk yang
menusuk ke paru – paru. Mataku terpejam berharap bertemu dengan matanya di
dalam sana. Aku benar. Dia ada di sana. Di rumah kecil dan sederhana. Di
serambi dimana dia biasa menemuiku. Jauh dari bising kota dan aku selalu
menyukainya. Aku bisa mencium aroma tanah yang subur, aroma pepohonan, tanaman
obat – obatan dan beberapa bunga di halaman.
“Ku pikir kau belum pulang..” dia
berdiri dan meraih bahuku. Senyum itu tajam dan menenangkan. Aku merasa aman.
“Mungkin kau lupa bahwa hari ini aku harus membawamu ke kota”
“Aku tidak berharap kita pergi ke sana. Dan Ya.. kita harus
pergi” suaraku terdengar berat berisi kekecewaan.
“Bagaimana harimu?” aku berusaha mengendalikan egoku yang
berharap bahwa aku bisa menghabiskan waktu di rumah dengannya.
“Seperti biasa… aku selalu ingin pulang lebih cepat dan
menemuimu. Bagaimana harimu?” dia membuka pintu kayu dan menaruh mantelnya di
sofa.
“Aku menemukan beberapa buku usang di rak paling bawah. Aku
membacanya. Ku rasa aku bosan berada di rumah saat kau tak ada. Jadi aku pergi
keluar mencari udara segar”
“Ku pikir itu bagus”dia berdiri di rak buku tua. Satu
tangannya dimasukkan ke saku celananya dan satunya lagi mengambil buku usang
yang tadi ku baca. Dia mengamatinya tajam.
"Kau sungguh telah membaca
ini?" wajahnya berubah memberikanku isyarat bahwa aku tak benar-benar
membacanya.
Instagram : @tulisanbiasa_
13 Maret 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar