Selasa, 27 Maret 2018


Larik - larik pohon jati tegak berdiri ditepi jalan berliku. Alam mengumandangkan kidung kedukaan, lantas pagi mengembalikan jiwa bocahku. Matahari tak mau berbagi sinarnya. Dingin merajai dengan angkuhnya.

Malam menguak tabir, menggelar abu-abu yang dulu tabu. Sang Bapa merapal 'Mijil' hingga 'Pocung', mengajak seluruh jagad membaca sipat. Sang Rena (ibu) memangku Si Ponang (bayi) dan menyelimutinya dengan jarik motif 'Parang curigo ceplok kepet'.

Sedang aku memainkan nada-nada asmara
untuk mengoyak suci menjadi lara. Di bawah sinaran Chandra. Diriku bermandikan cahaya putih yang nyata. Aku menyambutnya dengan memerankan opera jawa. Di tepi gemericik bengawan saat malam, syair-syair terlantunkan memilukan, tubuh menari menumpahkan kekalutan.
Duka menyelimuti kaki, tak mampu berdiri.
Kibasan sampur membuatku tersungkur. Aku merangkak menuju pelataran, menjauhi riak air yang tenang. Berlinang darah. Chandra menatapku iba dari langit sana. Malam semakin mengutuhkanku pada jiwa bocahku. Lalu akhirnya air mata memainkan perannya. 

Kabut semakin tebal. Debur.. Deru..
Alam semesta mengutukku juga rasaku.
Pelangi senja hari tadi mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak ke mana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga
Sang Rena, aku menginginkan telapak kakinya. Menginginkan tidur di 'pangkon'nya berselimutkan jarik 'bledak sidoluhur' seperti dulu saat aku masih sering 'dikudang' dan 'digadhang'.

Badan terbujur hingga rasanya hampir melebur. Tak ada lagi yang mampu di pandang mata saat duka nestapa mengekang jiwa. Entah bagaimana langit masih berbaik. Angin mengantar ruhku sampai ke 'pangkon' Sang Rena. Rambutnya terlihat memutih, namun paras ayunya tak pernah tersisih. Telapak tangannya masih hangat ketika menyentuh rambutku yang bergelung. Jarinya mengurai rambutku hingga tergerai lalu meletakkan kepalaku pada 'pangkon'nya yang tak sekokoh biasanya. Ku tahu waktu bocahku akan sirna saat matahari tiba. Disisa malam yang ada, aku berkata "Ibu, ceritakan padaku tentang perjalanan Raden Bratasena saat mencari Tirta Prawita".


Tidak ada komentar:

Posting Komentar