Jumat, 16 Maret 2018


Ini Oktober kesekian kalinya kita tidak bersama. Namun segala kenangan tentang kita masih abadi melekat dan enggan mati. Lembayung Bali masih lah lagu yang aku sukai. Dan anak – anak masihlah harta yang paling aku cintai. Memutar waktu ke masa lalu. Bagaimana kau dengan girang mengatakan padaku dari seberang bahwa anak – anak didikmu menjuarai kompetisi tingkat nasional Bagaimana akhirnya kau bangun sanggar – sanggar indah berdampingan. Kau sisakan satu lahan dengan bunga – bunga di sekitar. Kau bilang itu untukku.

 “Kau bisa mengajak anak – anak menari di sana sepulang kau bekerja”. Katamu menunjuk satu sanggar setengah jadi persis di sebelah sanggarmu yang kau impikan dulu. 

Sejak itu aku mulai menata hati dan mimpi untuk tinggal di kotamu. Aku tak peduli berapa kali aku mengadu padamu tentang kesedihanku. Menghakimi diriku bahwa aku tak pernah merasa bahagia hidup di dunia. Beberapa kali itu juga kau tak pernah bosan mendengar ocehanku yang panjang lebar dengan sabar. Meski di depanmu tertumpuk banyak sekali kertas – kertas hingga menggunung, juga kalender berlingkar merah yang menandakan pekerjaanmu harus segera rampung. Dengan senyum kau julurkan tangan memberiku buku karya Erbe Sentanu. 

“Buka halaman 24 – 25. Baca dan pahamilah isinya” aku menuruti ucapanmu tanpa bertanya.

Di buku itu jelas tertulis bahwa, “Kalau kita ingin melihat seperti apa sebetulnya kondisi fitrah manusia, kita bisa mengamati kehidupan anak balita. Anak – anak seusia itu akan selalu merasakan bahagia, senang, tanpa beban, dan total dalam mengerjakan sesuatu. Saat bermain ia akan total bermain, saat menangis ia akan seratus persen menangis, dan saat tertawa ia akan tertawa dengan lepas. Ia, anak – anak, selalu berada di present moment, selalu terfokus pada apa yang sedang ia alami –saat ini.  Sri Sri Ravi Shankar, seorang spiritualis terkenal dunia , salah seorang nominator pemenang hadiah Nobel untuk perdamaian di tahun 2006, mengatakan bahwa dirinya adalah anak – anak. Oleh karena itu, ia selalu menyungging senyum setiap waktu. Ia merasa dirinya senantiasa di liputi kebahagiaan.  Inilah yang seharusnya manusia pertahankan dalam hidupnya sehingga ia tetap pada fitrahnya”

"Kau tahu? wajahku selalu berbeda saat mengajar di TK, SD, SMP, SMA. Paling seneng di TK. Coba kau perhatikan mereka, anak - anak TK. Mereka belum terkontaminasi hal - hal negatif yang membuat mereka jadi lebih buruk. contoh, saat orang tuanya bertengkar, si anak gak peduli dengan pertengkaran itu. mereka tetep asik bermain. padahal orang tua mereka lagi marahan." katamu sambil mengambil satu persatu kertas yang berisi list tugas. 

Aku tidak pernah menyangka itu adalah senja terakhir kita bersama. Tuhan ternyata memiliki rencana sendiri. Satu tahun setelah kau hadiahkan buku itu padaku, DIA memintaku untuk berjuang sendiri mencari bahagia tanpa adanya kamu membersamaiku. Kau telah nyaman dalam dekap-Nya. Sedang aku tertahan di sini, dalam gegap gempitanya dunia. Perlu bertahun - tahun aku mempercayai apa yang telah terjadi. Hingga setiap hujan datang dia tak lelah menyadarkanku bahwa semua tinggallah kenang. Dan sekarang biarlah kenangan itu hidup abadi. 

Lihatlah, 1 bulan ini dalam 3 kali pertemuan aku mendapatkan kesempatan untuk bermain bersama mereka, anak - anak lucu dan lugu yang kau sebut malaikat dunia selain ibu. Bersama merekalah kurasakan hadirmu ada. Tolong jangan tertawakan bagaimana kelihatannya saat aku sedang belajar. aku memang belum bisa sepertimu. Dan mungkin tak akan pernah bisa. 


Instagram : @tulisanbiasa_
29 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar