Jumat, 16 Maret 2018

ILUSI



“Kembali… Di tepi kaca jendela ruang itu. Tertatap wajah yang selalu di rindu. Tetes embun telah memudar oleh belaian lembut mentari pagi yang enggan bersinar. Masihkah lembut lisan jemari menata syahdu diksi di hati. Mengirim rindu yang kembali. Memeluk hati untuk menanti. Inilah rinduku, Bulan pebruari…. Leah, ku mohon kembali…” Raut wajah Leah berubah getir. Dialihkannya pandangan dari layar HP ke kaca mobil. 
“Siapa…?” Cade disampingnya bisa merasakan perubahan atmosfer yang terjadi di bis kota.
“Lupakan….” jawab Leah enggan.
“Kau sungguh ingin pergi?”
“Iya…”
“Sampai kapan kau akan lari..?”
“Cade, kau bisa mencari tempat duduk lain jika kau mau”
“Dengar… secara tidak langsung kau menyakitinya dengan mengabaikannya. Kita sudah bersama sejak kau ada. Berapa kali kau berusaha menghindar untuk tidak jatuh cinta. Berapa kali kau pindah dari satu kota ke kota lainnya.”
“Cade diamlah.. jika kau lelah bersamaku kau bisa turun dan kembalilah ke rumah…” Wajah Leah semakin masam. Kemacetan yang semakin mengular menambah sesak suasana di dalam bis yang penuh penumpang. Siapa saja bisa dengan mudah marah kecuali mereka orang yang benar – benar mampu mengendalikan diri. Cade salah satunya.
 “Rumah mana yang kau maksud, Sayang? Sejak kapan kita memiliki rumah? Sejak kapan kita benar – benar memahami hakekat pulang. Selama ini kita hanya memahami hakekat pergi dan bersembunyi” senyum perempuan paruh baya itu tersungging pahit dengan air mata yang menggenang dan siap untuk di jatuhkan.
“Cade… aku tidak bermaksud…..”
“Tidak apa – apa sayang, aku mengerti. Sungguh…. Aku memahamimu lebih dari kau memahami dirimu sendiri. Tahukah kau saat kau lahir dengan tangisan yang begitu menyakitkan aku bersumpah pada diriku sendiri untuk selalu bersamamu kemanapun kau pergi. Kurasa aku telah memenuhi janjiku. Tapi dengar sayang, aku akan semakin tua, meskipun aku tak menginginkan itu, sebentar lagi pasti aku hanya akan merepotkanmu dengan tidur seharian di pembaringan.”
“Bibi.. kau tak boleh mengatakan itu..”
"Dan aku benci kau memanggilku Bibi.." Cade mengusap butiran air mata yang sudah keluar dari kelopak matanya. Bola matanya yang cokelat sangat serasi dengan warna rambutnya yang seperti madu. Rapi terikat kebelakang dengan balutan pita yang membuatnya tetap manis dan terlihat muda.
"Dengar Leah.. Dengarlah sayang, kau tak perlu lari dari dunia. Tinggallah , menetaplah, keluarlah, temukan rumahmu dan mulailah untuk membangun hidupmu yang baru. Tak peduli seberapa dalam dan kotoir jurang tempatmu terjatuh. Kau kini telah keluar dari sana. Berikan sedikit saja kepercayaan untuk orang lain memasuki kehidupanmu. Berikanlah mereka kesempatan untuk mengatakan seberapa berartinya dirimu untuk mereka"
"Tapi Cade, Aku.... Aku tak bisa.." Gadis itu menunduk, menangis dan menggugu.
"Kau bisa.. tapi kau tak mau. Kau tak bisa membohongiku Leah. Kau mencintainya, kau ingin bersamanya dan kau ingin tinggal di sini lebih lama. Kau membutuhkannya, disetiap langkahmu kau digenggamnya, dia di sampingmu. disetiap detak jantungmu, disetiap hembus nafasmu. Disetiap kau menghadap Tuhan, aku tahu kau mencintainya. Leah... kau selalu memimpikan sebuah penerimaan. Penerimaan masa lalumu, hidupmu dan hidup kita. Dia menerima semua yang kau bawa. Apa lagi yang akan kau syaratkan Leah..." Suara Cade melemah.
"Cade..."
"Semua ada fasenya sayang.. bahkan langitpun tak selalu biru. Matahari sesekali akan redup. Bahkan dia akan tenggelam dan memberimu gelap malamyang panjang. Begitupun kehidupan"
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Berhentilah melarikan diri, berhentilah bersembunyi dari dia, dari dunia, dan dari dirimu sendiri"
.
.
.
Instagram : @tulisanbiasa_
11 Februari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar