Jumat, 16 Maret 2018

ILUSI


Mungkin aku memang sudah menjadi setengah gila semenjak mengenal Ben dalam hidupku. Seharusnya akal warasku lebih utuh karena akhirnya aku berhasil menemukan jawaban dari teka teki yang sangat memuakkan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ben yang ku temui sangat berbeda. Kulit – kulit bersih pemuda kota yang pernah kutemui, pakaian yang rapi, sangat berbeda dengan wajahnya yang sering dipenuhi debu, kulitnya yang kecoklatan karena terlalu lama di bakar matahari. 
Saat bertemu dengannya aku entah menjadi siapa. Yang terpantul dari cermin di depanku adalah wanita dengan gaun indah sederhana menutupi setengah betisnya. Rambutnya yang panjang tergerai dengan pita di kepala. Tubuhnya sangat ideal, jauh sekali dengan milikku yang pendek dan melebar. Dimana – mana hanya ada kereta kuda, tak ada gedung yang meninggi seperti di kota yang kutinggali. Tak ada kereta api, semua masih terlihat asri, pepohonan rimbun disana – sini. Payung? Kenapa wanita di cermin itu lengket sekali dengan payungnya. Memutar – mutarnya di bahu saat berjalan. Oh Tuhan… setidaknya jangan pilihkan mimpiku berlatar penjajahan. Sungguh lelucon baru ketika malam – malamku selalu di datanginya, Ben. Bahkan mimpi – mimpiku di hamparan kebun teh yang luas terlihat begitu nyata. Kurasa dia pria yang teramat sangat menyebalkan, tapi kenapa jika semalam saja aku tak bertemu dengannya hatiku kecewa. Mungkinkah aku sudah mulai bergantung padanya? Bayangannya? Oh ya, aku sekarang sepenuhnya percaya bahwa AKU GILA. Tak masalah jika sekalian saja ku akui aku mencintainya, dan mengatakan bahwa dia juga mencntaiku. Ini mimpi, ini hanya ilusi.
Aku rela berjam – jam menunggu hanya untuk bertengkar dan berdebat dengannya. Beginilah cara kami mencinta. Senyumnya yang sinis kilatan matanya yang jahil, selalu menganggapku gadis manja yang tak bisa apa – apa.
“Sudah cukup bicaramu, Nona?”
“Setidaknya sampai telingamu sakit, Tuan!”
 “Kau sedang di duniaku, ingat itu?”
“Jangan bangga dulu, kau juga tidak sedang di duniamu sendiri”
“Jangan gila, bicaramu sama sekali tidak masuk akal nona manis!”
“Berhenti menatapku seolah aku propertimu, dan berhenti menyebutku begitu. Aku sama sekali tidak tertarik”
"Kau pikir aku tertarik padamu? Hanya lelaki bodoh di kota ini yang akan tertarik padamu, Sayang"
"Ku rasa kau juga akan segera menjadi bodoh jika kau tidak belajar bangun menghentikan mimpi dan... omong kosong kita ini"
"Omong kosong? Bukankah itu kau nona, yang pandai bicara tanpa jelas apa maksudnya. Dan ingat, tidak ada satu pun dari bicaramu yang bisa ku mengerti"
"Oh ya? setidaknya aku senang Tuan Ben, akhirnya ada orang di kota ini yang mengatakan bahwa aku pandai bicara"
"Bicara omong kosong maksudmu, Sayang?"
"Ku pikir tidak terlalu buruk. Setidaknya aku puas mengungkapkan pendapatku"
"Padaku..? Tidak kah kau punya pilihan lain untuk mendengarkan ocehanmu?"
"Kurasa hanya telingamu di kota ini yang terlalu banyak kotorannya dan tersumbat karenanya, jadi kau bisa berlama - lama denganku, mendengar ocehanku"
"Ya.. dan hanya aku , orang di kota ini yang mampu membuatmu tidak bisa bicara apa -apa lagi"
"Kita lihat saja nanti"


Instagram : @tulisanbiasa_
30 Januari 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar