Aku menyukai jarak ini, karena tanpa jarak ini aku tidak
akan pernah memiliki alasan untuk datang mendekatimu.
Meski ku tahu, bahwa mungkin aku hampir tak akan pernah bisa
datang mendekatimu.
Aku hanya bisa menunggumu pada setiap titik dimana kita
pernah bertemu. Rasanya sulit bagiku
untuk mengabaikanmu. Sejak kau datang menjadi teman baik dan juga
sahabatku. Kau balikkan semua
kesedihanku menjadi kegembiraan, semua air mataku menjadi tawa. Mungkin aku tak
mampu memberimu cinta seperti yang terus kau berikan padaku. Dan hanya
pertanyaan yang mampu ku layangkan. Bagaimana kau bisa mencintaiku dengan
sebegitu besar?
Hidup ini begitu singkat.
Sedang di sini aku hanya bisa selalu khawatir. Khawatir bila
pada akhirnya kita tidak bisa bersama.
Aku khawatir kisah kita hanyalah ilusi semata. Mungkin kau selalu berpikir bahwa kau
berjuang sendirian. Namun kau salah. Dalam lemah rapuhku, aku menginginkanmu
lebih dari yang kau tahu.
Kau harus tahu...
Hidup di sini sangatlah sepi dan menyakitkan. Aku selalu
ingin meraih uluran tanganmu lalu kita pergi bersama meninggalkan kisah pilu yg
ada. Menuju damai yang pernah aku impikan. Di sini, sembari merindukanmu setiap
hari, aku merasa gelisah. Setiap langkah yang ku ambil, rasanya aku harus
sangat berhati - hati, seolah segalanya menyangkut antara hidup dan mati.
Seperti halnya gambar ini...
Melihat manisnya ini, mataku tak ingin melihat apa-apa lagi.
Bagai kupu-kupu, hatiku terbang ke suatu tempat yang jauh. Namun kau sperti
telah menyatu dgn langit biru. Membuatku tertahan dn berdiri di sini saja lalu
merasakan hadirmu ada. Seperti kegelapan yang sedang di ciumi cahaya. Tubuhku
yang dipenuhi oleh jelaga terbersihkan oleh sapuan lembut tangan-tanganmu dalam
khayalku.
Untuk kesekian kalinya, hatiku berbunga-bunga. Berbunga-bunga
sampai ketenangan hatiku hilang. Hatiku mengatakan untuk menahanmu di sini.
Namun mulutku selalu saja memintamu untuk pergi. Dan akhirnya aku hanya mampu
menghitung masa, menanti hari dimana aku tak lagi merasa akan bersaing dengan
waktu. Bersaing siapakah yang akan lebih dulu berhenti. Menunggu jawaban atas
keresahan segala pertanyaan hidup yang membuat rasa di jiwa meredup.
Aku menyukai jarak ini, karena tanpa jarak ini aku tidak
akan pernah memiliki alasan untuk datang mendekatimu.
Meski ku tahu, bahwa mungkin aku hampir tak akan pernah bisa
datang mendekatimu.
Aku hanya bisa menunggumu pada setiap titik dimana kita
pernah bertemu. Rasanya sulit bagiku
untuk mengabaikanmu. Sejak kau datang menjadi teman baik dan juga
sahabatku. Kau balikkan semua
kesedihanku menjadi kegembiraan, semua air mataku menjadi tawa. Mungkin aku tak
mampu memberimu cinta seperti yang terus kau berikan padaku. Dan hanya
pertanyaan yang mampu ku layangkan. Bagaimana kau bisa mencintaiku dengan
sebegitu besar?
Hidup ini begitu singkat.
Sedang di sini aku hanya bisa selalu khawatir. Khawatir bila
pada akhirnya kita tidak bisa bersama.
Aku khawatir kisah kita hanyalah ilusi semata. Mungkin kau selalu berpikir bahwa kau
berjuang sendirian. Namun kau salah. Dalam lemah rapuhku, aku menginginkanmu
lebih dari yang kau tahu.
Kau harus tahu...
Hidup di sini sangatlah sepi dan menyakitkan. Aku selalu
ingin meraih uluran tanganmu lalu kita pergi bersama meninggalkan kisah pilu yg
ada. Menuju damai yang pernah aku impikan. Di sini, sembari merindukanmu setiap
hari, aku merasa gelisah. Setiap langkah yang ku ambil, rasanya aku harus
sangat berhati - hati, seolah segalanya menyangkut antara hidup dan mati.
Seperti halnya gambar ini...
Melihat manisnya ini, mataku tak ingin melihat apa-apa lagi.
Bagai kupu-kupu, hatiku terbang ke suatu tempat yang jauh. Namun kau sperti
telah menyatu dgn langit biru. Membuatku tertahan dn berdiri di sini saja lalu
merasakan hadirmu ada. Seperti kegelapan yang sedang di ciumi cahaya. Tubuhku
yang dipenuhi oleh jelaga terbersihkan oleh sapuan lembut tangan-tanganmu dalam
khayalku.
Untuk kesekian kalinya, hatiku berbunga-bunga. Berbunga-bunga
sampai ketenangan hatiku hilang. Hatiku mengatakan untuk menahanmu di sini.
Namun mulutku selalu saja memintamu untuk pergi. Dan akhirnya aku hanya mampu
menghitung masa, menanti hari dimana aku tak lagi merasa akan bersaing dengan
waktu. Bersaing siapakah yang akan lebih dulu berhenti. Menunggu jawaban atas
keresahan segala pertanyaan hidup yang membuat rasa di jiwa meredup.
Instagram : @tulisanbiasa_
18 Februari 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar