Minggu, 15 April 2018

Narrative text "Paramesywari the Deaf"



"Paramesywari the Deaf"

The sun rose and drove the fog. Hundreds of glorious mountaintops touch the sky. Over time clouds were seen hanging in the sky of the transition season. The day was right on 937 Saka. The moon disappeared in the cold that lasts for night.
The Palace looked deserted since the departure of Sri Baginda Danjaya. Remained Paramesywari Kinasih along with her loyal servants in Pendopo Keputren. But almost a quarter of windu Yang Ayu Kinasih did not come out from Bilik Agung. Seen by the servant, Yang Ayu did not move from the contemplation. She did not read rontal from the brahmans. She did not glance at the Ramayana story on the burning ground wall. Everyday just sang the poems from Maha Guru. The Songs which believed by people can not longer entertain the heart. Yang Ayu did not eat a bite of rice. The Servants were not rarely expelled away. She just stayed alone and silence. Only one servant named Inang who is faithful to accompany. Kept Yang Ayu's body, which was getting wilted every day.
"Oh..Yang Ayu. Eat some food, please. Then wipe your body that had been untouched by water in Kawi's slopes. As the sun is rising, I will bring Yang Ayu to the behind of Pendopo Keputren. There is a Melinjo tree below which there is a bamboo couch for you to sit on. I'll comb Yang Ayu's hair and I'll tuck the flower of Ceplok Piring from the Forbidden Garden " Inang persuade.
"Dear God, sit you right beside me. Have you heard the winds sung beautiful verses of Hyang Surya at dusk? Today the sun seems to be engulfed by Betharakala. While this small and wilted body has not yet reached the west to get a peace of heart from  waves rippling "Yang Ayu Kinasih bowed her head on Inang, then she was dropping her tears.
"It is not true if Yang Ayu talks about the west. Yang Ayu's place is in the east. It is not even possible if Yang Ayu imagines the waves, while the splash of the river is the real one. Yang Ayu will get a peace of heart when Yang Ayu stops listen to worldly voices. " Inang was grabbing Yang Ayu's shoulder then stroking her long dull hair.
"Oh my Inang. Is it true that I am the most wicked manifestation? "
"For Jagad Pramudita, maybe someone else hates you. But do they know about you? They only know about the Paramesywari. There is no game in your melodious poems. The Majesty is not hooked on you by a spell. Your sorrow is not a lie. Your tears are not fake " Inang felt hurt saw her Paramesywari kneeling in helplessness.
"Oh no… My Inang. The words of the people it may be true. I do not deserve to be Paramesywari. I Brahmani should not sit on the throne with Satria. This 20-year-old girl doesn't know about the country or anything else. I am just the daughter of the Sudra who should be cultivating a field with a hoe. Not made beautiful by you every day" Kinasih crying harder. Even the birds went powerless listening to the pain.
"Dear God ... Please forgive me. Who says that Yang Ayu is inappropriate? There is no more in this country that deserves to accompany Sri Baginda Danjaya. It is not wrong if a Brahmin accompanies Satria, even gods have confirmed that caste will be transformed by the human dharma itself " Inang was increasingly confused with the Pramesywari which drifting in the words of people.
"Oh Inang ... may be true if Sri Baginda Danjaya left this palace because he did not want to have a wife like me that almost four years marriage has not been able to contain his successor. Is it true that your Majesty went to marry another woman prettier than me, wiser than my verses? " Paramesywari's voice was husky.
"Oh great universe, don't you justify Yang Ayu's words. Yang Ayu, Paramesywari, Sri Baginda Danjaya is a wise knight.His dharma no doubt. He is the most faithful among the previous kings. It's enough of Yang Ayu's beautiful face for him. Not less Yang Ayu's wisdom for him. " Inang did not gave up  assuring the Paramesywari.
"Tell me .. oh my Inang .. what's less than me?"
The cold wind of transition showed up. Inang lifted Pramesywari's head from her lap.
"Oh Yang Ayu ... the ocean knows your race is wider than it is. Being able to hear is a gift, but once in a while Yang Ayu must also become deaf. From the talk of the people who are never satisfied by his lust. As long as they still have the tongue, then during that time they will be able to sing grief for others. But cutting the tongues of people just to protect our feelings is not justified, Yang Ayu. We must be able to cut the bad feelings ourselves "
"What should I do, Oh My Inang?" The Paramesywari wiped his tears.
"Come out Yang Ayu. Stop hiding away like this. Get out from the palace. Be the real Paramesywari. Give us orders and we as servants will be happy to do so. Go back to your old Majesty. Restore that confidence in Your Majesty. Sing again the wisdom poems "
"Oh my Inang ..."
"For the sake of the Universe Pramudita, even the mountain will not listen to the talk of the people and the cave will not echo it to you. Yang Ayu, there are still many days that the Gods offer for you, don't just these days which you are looking at "
Feeling that her Inang was true, then from that day Pramesywari Kinasih made herself deaf. She was deaf from the words of the person who weakened it. He returned to his old self, a respected Paramesywari of the whole country. Paramesywari who is famous for her wisdom. Pramesywari that no longer fallen just because of people's words. Paramesywari who plunged into the battle field lifted the sword.


 .................................................................................................................................................................. 

"Paramesywari yang Tuli"

Metari meninggi kejar mengejar mengusir kabut. Ratusan pandang gunung – gunung agung meninggi menyentuh langit. Selang beberapa waktu awan – awan terlihat bergantungan di langit musim pancaroba. Hari itu tepat pada 937 Saka. Bulan menghilang berganti dingin yang berkepanjangan kala malam.
Istana terlihat sepi sejak kepergian Sri Baginda Danjaya. Tersisalah Paramesywari Kinasih beserta abdi setianya dalam Pendopo Keputren. Namun sudah hampir seperempat windu Yang Ayu Kinasih tak juga keluar dari Bilik Agung. Dilihatnya oleh pelayan , Yang Ayu tak juga beranjak dari perenungan. Tak dibacanya rontal – rontal dari para Brahman. Tak diliriknya ukiran kisah Ramayana di dinding tanah yang di bakar. Setiap hari hanya menyanyikan syair – syair dari para Maha Guru. Lagu – lagu yang diyakini oleh orang – orang  tak mampu lagi menghibur hati. Yang Ayu tak juga makan sesuap nasi.  Pelayanpun tak jarang diusir pergi. Dia hanya h sendiri dan berdiam diri. Hanya pelayan yang seorang itu bernama Inang selalu setia menemani. Meriasi tubuh Yang Ayu, yang semakin hari semakin layu.
“Makanlah duhai Yang Ayu, lalu bersihkanlah badan yang sudah berapa hari tak tersentuh air itu di pancuran kali lereng Kawi. Saat matahari sudah meninggi, akan Inang bawa Yang Ayu ke belakang Pendopo Keputren. Di sana ada pohon Melinjo yang di bawahnya terdapat dipan bambu untuk kau duduki. Akan ku sisir rambut Yang Ayu ini dan kuselipkan kembang Ceplok Piring dari Taman Terlarang” si Inang membujuk.
“Duhai Inangku yang dikasihi, duduklah kau tepat disampingku. Pernahkah kau dengar angin bersahut menyanyikan syair – syair indah tentang Hyang Surya saat senja? Hari ini matahari seolah akan ditelan oleh Betharakala. Sedangkan badan kecil dan layu ini belum juga sampai di barat untuk mendapatkan sesanti dari merdunya ombak yang beriak” Yang Ayu Kinasih menundukkan kepala pada Inangnya, menjatuhkan air matanya dan tersedan – sedan.
“Bukanlah tepat jika Yang Ayu membicarakan tentang barat. Tempat Yang Ayu adalah di timur. Tidaklah juga mungkin bila Yang Ayu membayangkan Ombak, sedangkan gemercik sungai adalah yang nyata. Sesanti itu akan Yang Ayu dapatkan bila Yang Ayu berhenti mendengarkan suara – suara duniawi” Inang meraih bahu Yang Ayu dan menepuk – nepuknya. Membelai rambut panjangnya yang kusam.
“Benarkah jika aku adalah penjelmaan yang Maha Dusta?”
“Demi Jagad Pramudita. Boleh jadi yang lain membenci. Tapi tidakkah mereka tahu tentang Yang Ayu? Mereka hanya tahu tentang Sang Paramesywari.  Tidaklah ada permainan dalam syair – syairmu yang merdu. Tidaklah juga Sang Baginda terpikat padamu karena mantra. Tidaklah dusta dukamu Yang Mulia, Tidak juga palsu air matamu” Inang menangis melihat Paramesywari bersimpuh dalam ketidak berdayaan.
“Oh tidak Inangku. Boleh jadi benar ucapan para Kawula itu. Aku tidaklah pantas menjadi Paramesywari. Aku Brahmani tidak seharusnya duduk bertahta mendampingi Satria. Tahu apa gadis 20 tahun ini tentang negeri. Aku hanyalah putri kaum Sudra yang sepantasnya mengolah ladang dengan cangkul. Tak dirias olehmu setiap hari di sini” Tangisan Kinasih semakin keras. Bahkan burung – burung pun pergi tak kuasa mendengarkan deritanya.
“Ya Dewa… Ampunilah hamba. Siapakah yang mengatakan bahwa Yang Ayu tidaklah pantas? Sungguh tak ada lagi di negeri ini yang pantas mendampingi Sri Baginda Danjaya. Tidaklah salah jika seorang Brahmani mendampingi Satria, bahkan dewa telah membenarkan bahwa kasta akan dirubah oleh dharma manusia itu sendiri” Inang semakin bingung menghadapi Sang Pramesywari yang terhanyut dalam omongan – omongan orang.
“Oh Inang… boleh jadi benar jika Sri Baginda pergi dari Pekuwuan sebab ia tak sudi memiliki istri sepertiku yang hampir setengah windu pernikahan belum juga mampu mengandung penerusnya. Benarkah Sri Baginda pergi untuk memperistri wanita lain yang lebih cantik dari padaku, yang lebih bijaksana daripada syair – syairku?” suara Paramesywari terdengar parau.
“Jagad Pramudita, jangan kau benarkan kata – kata Yang Ayu ini. Yang Mulia Paramesywari, Sri Baginda adalah satria yang bijaksana. Dharmanya sudah tidak diragukan lagi. Dia lah yang Maha Setia diantara raja – raja sebelumnya. Sudahlah cukup wajah cantik Yang Ayu ini baginya. Tidak juga kurang kebijaksanaan Yang Ayu ini untuknya.” Inang tak menyerah meyakinkan Sang Paramesywari.
“Katakanlah Inangku.. apa yang kurang dari diriku?”
Angin dingin pancaroba menunjukkan dinginnya. Si Inang mengangkat kepala Sang Pramesywari dari pangkuannya.
“Duhai Yang Ayu… samudra pun tahu rasamu lebih luas dari padanya. Bisa mendengar adalah suatu anugrah, namun sesekali Yang Ayu juga harus menjadi tuli. Dari omongan para Kawula yang tak pernah puas oleh nafsunya. Selama mereka masih memiliki lidah, maka selama itu pula mereka akan mampu menyanyikan kedukaan bagi orang lain. Namun memotong lidah para Kawula hanya untuk melindungi perasaan kita tidaklah dibenarkan Yang Ayu, kita lah yang harus mampu memotong perasaan buruk diri kita sendiri”
“Apa yang sebaiknya diri ini lakukan, duhai Inang?” Sang Paramesywari mengusap air matanya.
“Keluarlah Yang Ayu. Berhentilah menyembunyikan diri seperti ini.  Pergilah keluar Pendopo. Jadilah Paramesywari yang sebenarnya. Berikan perintah pada kami maka kami sebagai abdi akan dengan senang hati melakukannya. Kembali lah pada diri Yang Mulia yang dulu. Kembalikanlah rasa percaya diri itu dalam diri Yang Mulia. Nyanyikanlah lagi syair – syair kebijaksanaan”
“Oh Inangku…”
“Demi Jagad Pramudita, bahkan gunung itu pun tak akan sudi mendengarkan omongan para Kawula itu dan goa tak akan sampai hati menggemakannya padamu. Yang Ayu, masih ada banyak hari yang Dewa persembahkan untukmu, janganlah hanya hari – hari seperti ini saja yang kau indahkan”
Merasa bahwa omongan Inangnya adalah benar adanya, maka sejak hari itu Pramesywari Kinasih menjadi tuli. Dia tuli akan omongan – omongan orang yang melemahkannya. Dia kembali pada dirinya yang dulu, seorang Paramesywari yang disegani seluruh negeri. Paramesywari yang terkenal karena kebijaksanaannya. Pramesywari yang tidak tumbang hanya karena omongan – omongan orang. Paramesywari yang ikut terjun ke medan perang mengangkat pedang.




...................................................................................................................................................................

 NOTE :

Cerita ini adalah hasil dari imaginasi penulis secara pribadi. Nama – nama yang ada maupun tempat yang digunakan dalam cerita tidaklah ditujukan atau mengacu pada sejarah. Cerita ini sebenarnya mengangkat hal – hal kecil yang sering terjadi disekitar kita yang sering kita alami, hanya saja penulis menyajikannya dalam latar tempat dan suasana yang berbeda.
Dalam kehidupan sehari – hari kita sering mendengar perkataan – perkataan orang. Dari perkataan itu ada sisi yang membangun dan tidak sedikit juga sisi yang menjatuhkan. Untuk orang – orang yang memiliki sifat ‘tidak mau tahu’ alias cuek, hal – hal seperti ini akan dianggap biasa saja dan bukan masalah besar. Namun untuk orang – orang yang memiliki sifat perasa dan pemikir , hal – hal seperti ini akan dianggap sebagai sesuatu yang serius. Mereka akan selalu tidak tenang karena selalu mendengarkan omongan orang.
Dalam cerita ini Paramesywari Kinasih adalah cerminan orang yang memiliki sifat demikian, pemikir dan perasa. Dulunya saat dia menjadi anak petani, omongan orang tentang dirinya tidak begitu dia dengarkan. Saat dia menjadi orang yang berilmu (yang dilambangkan dengan kaum brahma) perkataan orang yang menjelekkannya juga masih bisa direda. Namun ketika dia berada di atas, menjadi Paramesywari, seorang istri raja, yang disegani dan terkenal bijaksana, dia semakin menjadi sorotan. Tak sedikit orang yang iri padanya dan selalu berusaha untuk menjatuhkannya. Setiap hari omongan orang – orang itu didengarkan tanpa mampu dia pilah mana yang patut didengar dan mana yang tidak. Lama kelamaan dia sendiri melemah, dan tenggelam dalam rasa bersalah juga pemikiran – pemikiran buruk dirinya sendiri.
Semakin lama dia semakin tenggelam dalam kedukaan. Melamun, tidak mau makan, berdiam diri hingga akhirnya dia jatuh sakit. Tubuhnya kurus kering dan tidak ada gairah untuk menjalani hidup. karena apa yang akan dia lakukan selalu mempertimbangkan penilaian masyarakat. Untuk mengatasi kondisi ini penulis menghadirkan tokoh Inang sebagai jalan keluar.
Dalam cerita, kelemahan Paramesywari dimunculkan dalam percakapan – percakapannya. Seperti:

“Duhai Inangku yang dikasihi, duduklah kau tepat disampingku. Pernahkah kau dengar angin bersahut menyanyikan syair – syair indah tentang Hyang Surya saat senja? Hari ini matahari seolah akan ditelan oleh Betharakala. Sedangkan badan kecil dan layu ini belum juga sampai di barat untuk mendapatkan sesanti dari merdunya ombak yang beriak” Yang Ayu Kinasih menundukkan kepala pada Inangnya, menjatuhkan air matanya dan tersedan – sedan.

= Matahari yang akan ditelan oleh betharakala menunjukkan bahwa hidupnya seolah gelap tidak ada lagi penerangan. Frustasi. Sedangkan dalam kondisi tubuhnya yang semakin memburuk itu dia belum juga mendapatkan sesanti atau ketenangan batin dari omongan – omongan orang diluar sana.
“Bukanlah tepat jika Yang Ayu membicarakan tentang barat. Tempat Yang Ayu adalah di timur. Tidaklah juga mungkin bila Yang Ayu membayangkan Ombak, sedangkan gemercik sungai adalah yang nyata. Sesanti itu akan Yang Ayu dapatkan bila Yang Ayu berhenti mendengarkan suara – suara duniawi” Inang meraih bahu Yang Ayu dan menepuk – nepuknya. Membelai rambut panjangnya yang kusam.
= Disini Inang menegaskan bahwa  setiap orang itu sudah memiliki kehidupannya sendiri – sendiri. Kita tidak perlu mengurusi hidup orang lain (barat) karena kita sudah punya kehidupan kita sendiri (timur) semua memiliki keindahannya masing – masing. Di barat kita mungkin bisa melihat senja, tapi timur juga permulaan dari segalanya. Kita tidak perlu berfikir hal – hal yang terlalu besar tentang omongan orang lain (Ombak). Kita memiliki kehidupan kita sendiri yang walaupun sesederhana apapun itu (sungai) tapi itulah yang nyata, kehidupan yang kita miliki.  Kita akan mendapatkan ketenangan batin kalau kita berhenti mendengarkan omongan – omongan orang yang selalu berfikir tentang dunia (khususnya yang suka menjelek – jelekkan dan menjatuhkan orang lain melalui perkataannya)
“Benarkah jika aku adalah penjelmaan yang Maha Dusta?”
= sederhananya ini menunjukkan bahwa ada orang yang mengatakan bahwa Paramesywari adalah tukang dusta. Dan dia memikirkan perkataan orang itu sehingga ia menanyakan pada si Inang.
“Demi Jagad Pramudita. Boleh jadi yang lain membenci. Tapi tidakkah mereka tahu tentang Yang Ayu? Mereka hanya tahu tentang Sang Paramesywari.  Tidaklah ada permainan dalam syair – syairmu yang merdu. Tidaklah juga Sang Baginda terpikat padamu karena mantra. Tidaklah dusta dukamu Yang Mulia, Tidak juga palsu air matamu” Inang menangis melihat Paramesywari bersimpuh dalam ketidak berdayaan.
= Dari jawaban si Inang menunjukkan bahwa ada beberapa orang tidak menyukai paramesywari sehingga mereka mengatakan bahwa Paramesywari selalu menyelipkan hasutan – hasutan dalam setiap perkataannya yang membuat dia disegani dan disebut bijaksana. Bahwa suaminya terpikat karena Paramesywari menggunakan sihir/jampi – jampi, kesedihan yang ditunjukkan Paramesywari didepan umum adalah sandiwara. Padahal semua itu tidaklah benar adanya.
“Oh tidak Inangku. Boleh jadi benar ucapan para Kawula itu. Aku tidaklah pantas menjadi Paramesywari. Aku Brahmani tidak seharusnya duduk bertahta mendampingi Satria. Tahu apa gadis 20 tahun ini tentang negeri. Aku hanyalah putri kaum Sudra yang sepantasnya mengolah ladang dengan cangkul. Tak dirias olehmu setiap hari di sini” Tangisan Kinasih semakin keras. Bahkan burung – burung pun pergi tak kuasa mendengarkan deritanya.
=Jawaban selanjutnya menegaskan lagi sifat Paramesywari. Dia memikirkan omongan orang yang mengatakan bahwa dia tidak pantas untuk suaminya. Karena suaminya dari keluarga terpandang (Kasta Satria) sedang dirinya sebenarnya hanya lah seorang anak petani (Kaum Sudra) namun berilmu (Kaum Brahma). Orang mengatakan bahwa Paramesywari tidak seharusnya memiliki tahta dan dirias cantik layaknya puteri, dia seharusnya berada diladang dengan cangkul
“Ya Dewa… Ampunilah hamba. Siapakah yang mengatakan bahwa Yang Ayu tidaklah pantas? Sungguh tak ada lagi di negeri ini yang pantas mendampingi Sri Baginda Danjaya. Tidaklah salah jika seorang Brahmani mendampingi Satria, bahkan dewa telah membenarkan bahwa kasta akan dirubah oleh dharma manusia itu sendiri” Inang semakin bingung menghadapi Sang Pramesywari yang terhanyut dalam omongan orang.
=Dari pemikiran Paramesywari si Inang kembali menasehati. Bahwa omongan orang itu tidaklah benar. Bukan kasta yang menentukan pantas tidaknya seseorang untuk menjadi pendamping satu dan yang lainnya. Melainkan adalah dharma (tata krama, perilaku)
“Oh Inang… boleh jadi benar jika Sri Baginda pergi dari Istana sebab ia tak sudi memiliki istri sepertiku yang hampir setengah windu pernikahan belum juga mampu mengandung penerusnya. Benarkah Sri Baginda pergi untuk memperistri wanita lain yang lebih cantik dari padaku, yang lebih bijaksana daripada syair – syairku?” suara Paramesywari terdengar parau.
=Belum cukup puas dengan nasehat si Inang, Pramesywari memikirkan lagi perkataan yang didengarnya. Seperti halnya terjadi dilingkungan kita sehari – hari, terkadang orang tidak cukup membicarakan kita, namun juga suami kita dan keluarga kita. Bahkan pekerjaan kitapun tak luput diurusinya. Seperti halnya digambarkan bahwa mereka mengatakan Sang Raja pergi karena dia tidak sudi memiliki istri yang belum juga bisa mengandung. Sang Raja pergi untuk mencari istri yang lebih cantik dan lebih bijaksana. Ya.. dugaan – dugaan seperti ini misalnya pasti akan selalu terbangun dimasyarakat khususnya untuk orang – orang tertentu. Belum menikah dibicarakan, sudah menikah belum memiliki anak juga dibicarakan. Begitulah contoh sederhananya.



“Jagad Pramudita, jangan kau benarkan kata – kata Yang Ayu ini. Yang Mulia Paramesywari, Sri Baginda adalah satria yang bijaksana. Dharmanya sudah tidak diragukan lagi. Dia lah yang Maha Setia diantara raja – raja sebelumnya. Sudahlah cukup wajah cantik Yang Ayu ini baginya. Tidak juga kurang kebijaksanaan Yang Ayu ini untuknya.” Inang tak menyerah meyakinkan Sang Paramesywari.
=Disini si Inang kembali menegaskan bahwa omongan orang itu tidaklah benar. Suami Paramesywari adalah orang yang paling setia dan berbudi luhur. Dia pergi semata – mata hanyalah karena pekerjaan yang memang bertempat jauh dan membutuhkan waktu lama. Namun sudah pastilah orang tidak akan mahu tahu soal itu.
“Katakanlah Inangku.. apa yang kurang dari diriku?”
=Disini menunjukkan bagaimana paramesywari begitu memikirkan penilaian orang terhadap dirinya.
“Duhai Yang Ayu… samudra pun tahu rasamu lebih luas dari padanya. Bisa mendengar adalah suatu anugrah, namun sesekali Yang Ayu juga harus menjadi tuli. Dari omongan para Kawula yang tak pernah puas oleh nafsunya. Selama mereka masih memiliki lidah, maka selama itu pula mereka akan mampu menyanyikan kedukaan bagi orang lain. Namun memotong lidah para Kawula hanya untuk melindungi perasaan kita tidaklah dibenarkan Yang Ayu, kita lah yang harus mampu memotong perasaan buruk diri kita sendiri”
= Si Inang menegaskan bahwa Pramesywari adalah orang yang memiliki hati yang baik. Sehingga dia mudah sekali merasakan sesuatu yang ada disekitarnya, peka, dan tanggap dengan kebijaksanaannya. Namun sayang, kelemahannya adalah mudah sekali memikirkan omongan orang dan itu tidaklah baik. Dimanapun kita berada pasti ada satu dua orang yang akan membicarakan kita entah itu baik maupun buruk. karena setiap orang memiliki lidah. Kita tidak bisa menghakimi dan memotong lidah setiap orang yang membicarakan hal buruk tentang kita, sekalipun hal tersebut memang jelas tidak benar adanya. Oleh karena itu kitalah yang harus mampu mengontrol diri. Untuk sesekali menjadi tuli dan memotong perasaan – perasaan buruk dalam diri sendiri.
“Apa yang sebaiknya diri ini lakukan, duhai Inang?” Sang Paramesywari mengusap air matanya.
= Ini menunjukkan bahwa sang Pramaesywari sudah mulai belajar hal baru. Sesuatu yang akan membawanya dalam perubahan menuju lebih baik.


“Keluarlah Yang Ayu. Berhentilah menyembunyikan diri seperti ini.  Pergilah keluar Pendopo. Jadilah Paramesywari yang sebenarnya. Berikan perintah pada kami maka kami sebagai abdi akan dengan senang hati melakukannya. Kembali lah pada diri Yang Mulia yang dulu. Kembalikanlah rasa percaya diri itu dalam diri Yang Mulia. Nyanyikanlah lagi syair – syair kebijaksanaan”
= Disini inang menegaskan bahwa kita tidak boleh kalah dengan perasaan kita. bahkan hanya karena omongan – omongan orang yang belum tentu benar. Terkadang orang hanya tahu nama kita, sisi luarnya kita, tapi tidak tahu kisah kita yang sebenarnya. maka dari itu jangan gentar. Jangan bersembunyi, lemah dan bahkan mengurung diri. jika kita lemah dan termakan omongan mereka, maka mereka akan senang karena merasa menang. Maka dari itu bangkitlah. Kembali pada diri kita sendiri. Diri kita yang apa adanya. Diri kita yang percaya bahwa kita adalah baik dan memiliki niat yang baik dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Omongan orang memanglah perlu untuk jadi pertimbangan dalam memperbaiki diri tapi tidak semuanya kita harus makan mentah – mentah. Kita harus bisa memilah. Dan tak sepenuhnya kita hidup hanya perpatokan pada penilaian orang terhadap kita.
“Oh Inangku…”
=Paramesywari menerima apa yang sudah Inang katakan.
“Demi Jagad Pramudita, bahkan gunung itu pun tak akan sudi mendengarkan omongan para Kawula itu dan goa tak akan sampai hati menggemakannya padamu. Yang Ayu, masih ada banyak hari yang Dewa persembahkan untukmu, janganlah hanya hari – hari seperti ini saja yang kau indahkan”
=Di akhir Inang menambahkan lagi bahwa perkataan – perkataan yang buruk dari/tentang orang lain apalagi itu tidaklah benar diibaratkan bahwa gunung saja tidak sudi mendengarnya dan goa tidak kuasa menggemakannya. Kita masih memiliki banyak hari dalam hidup kita  maka janganlah kita hanya terpaku pada hari - hari yang menyedihkan dan mengurusi omongan orang lain yang tidak membangun itu. Sia – sia.
Merasa bahwa omongan Inangnya adalah benar adanya, maka sejak hari itu Pramesywari Kinasih menjadi tuli. Dia tuli akan omongan – omongan orang yang melemahkannya. Dia kembali pada dirinya yang dulu, seorang Paramesywari yang disegani seluruh negeri. Paramesywari yang terkenal karena kebijaksanaannya. Pramesywari yang tidak tumbang hanya karena omongan – omongan orang. Paramesywari yang ikut terjun ke medan perang mengangkat pedang.
Demikianlah sedikit cerita tentang Paramesywari yang Tuli. Semoga ada yang bisa diambil. Penulis mengucapkan terimakasih atas kesediaannya dalam membaca dan mohon maaf apabila masih banyak kekurangan dalam menyampaikan gagasan/ide maupun dalam menyajikan cerita dalam bentuk tulisan.

5 komentar:

  1. Ditunggu cerita selanjutnya ��

    BalasHapus
  2. You make an amazing story. How long it is! May you could be a great writer one day. 🌹

    BalasHapus
  3. You talk about yourself, Sist. ❤ I haven't had a dream like that. When I write this, i feel that it's difficult. Oh look... how bad I write.

    BalasHapus
  4. Tulisan yg bagus! Dan tambah bermanfaat lagi jika dibaca orang-orang yg membutuhkan pertolongan kesehatan mental.

    BalasHapus